Puskesmas Sandar Angin Jadi Pusat Edukasi
PENYULUHAN KESEHATAN: Foto bersama usai kegiatan penyuluhan kesehatan di Puskesmas Sandar Angin--foto: edo
KORANPAGARALAMPOS.COM - UPTD Puskesmas Sandar Angin menjadi pusat perhatian dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya bagi anak-anak.
Fasilitas kesehatan ini dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan penyuluhan kesehatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Spesialis Anak Indonesia dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program Pekan Tuberkulosis Anak yang dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah.
Meski peringatan Hari TB Sedunia jatuh setiap 24 Maret, rangkaian kegiatan edukasi terus digencarkan sebagai bentuk komitmen bersama dalam menekan penyebaran penyakit tuberkulosis (TB), khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak.
BACA JUGA:7 Program Studi Kuliah Ternama 2026 yang Jadi Incaran HRD: Nomor 3 Gajinya Bikin Melongo!
Kepala UPTD Puskesmas Sandar Angin, Yuni Fatmawati, SKM, menjelaskan bahwa kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
Para dokter spesialis anak memberikan penyuluhan langsung kepada tenaga medis di puskesmas, terutama mereka yang menangani pasien anak.
“Melalui kegiatan ini, tenaga kesehatan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait penanganan, pencegahan, hingga deteksi dini TB pada anak,” ungkapnya.
Mengusung tema global “Yes! We Can End TB”, kegiatan ini menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memerangi tuberkulosis. Para peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga wawasan praktis mengenai cara mengidentifikasi gejala TB sejak dini, langkah penanganan yang tepat, serta strategi edukasi kepada masyarakat.
BACA JUGA:Yuk Intip 5 Jurusan Kuliah yang Paling Dicari Dunia Kerja 2026: Nomor 3 Bikin Gaji Melonjak Tajam!
Puskesmas Sandar Angin sendiri dipilih sebagai lokasi terpusat kegiatan di wilayah Pagar Alam bukan tanpa alasan. Keterbatasan jumlah dokter spesialis anak menjadi salah satu faktor utama, sehingga pelaksanaan kegiatan secara terpusat dinilai lebih efektif dan efisien.
“Dengan kondisi tenaga spesialis yang terbatas, kami memusatkan kegiatan di sini agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas,” jelas Yuni.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, penyuluhan ini juga menjadi wujud nyata dukungan terhadap upaya pencegahan TB pada anak. Yuni menegaskan bahwa semangat yang diusung dalam tema kegiatan harus benar-benar diimplementasikan dalam pelayanan sehari-hari.
“Ibaratnya, jangan ada lagi kasus TB, terutama pada anak-anak. Kita harus benar-benar menyetop dan mengakhiri penyebarannya,” tegasnya.