Mati Efisien
Mati Efisien--Tomy/Pagaralampos
Kami pun berbincang di ruang rapat direksi. Aditya membuka laptop. Sambil menunggu laptop menyala, saya menatap papan tulis besar di depan.
BACA JUGA:L300 Mini Bus 2026: Cicilan Ringan, Mesin Pencetak Uang
Ada tulisan menarik di papan itu: surat pendek seorang anak perempuan kepada ibunya. Anda sudah tahu surat siapa itu. Yakni surat seorang anak SD yang bunuh diri di NTT. Dalam bahasa daerah NTT. Lalu ada terjemahan bahasa Indonesia di sebelahnya.
"Pak Joao minta agar kami selalu membaca surat itu. Beliau minta surat itu ditaruh di papan ruang rapat," ujar Aditya.
Aditya bukan tentara. Sebelum di Agrinas, Aditya bekerja di perusahaan minyak Amerika Serikat: ExxonMobil. Tugasnya di Cepu. Ia terpanggil untuk ikut membawa misi koperasi Merah Putih.
Aditya sendiri lulusan SMA Nusantara, Magelang. Lalu ke teknik sipil UGM. Masternya didapat di New Castle Inggris.
Ternyata ada juga sipilnya.
BACA JUGA:Panther Mini 2026 Terungkap, Cocok untuk Perkotaan
Keterlibatan militer itu, katanya, tidak selamanya. Hanya sampai seluruh bangunan fisik selesai dibangun.
Setelah itu ganti dipegang manajemen Agrinas Pangan Nusantara sepenuhnya.
Tim Joao-lah yang menjalankan Koperasi Merah Putih itu. Semuanya. Se-Indonesia. Targetnya: selama dua tahun. Setelah itu diserahkan ke pengurus koperasi di desa-desa dan kelurahan.
Joao saya beri gelar petir karena langkahnya yang serba mengejutkan. Mulai dari saat ia memutuskan mundur dari jabatan dirut Agrinas sampai saat ia melakukan pembelian 105.000 mobil dari India.
BACA JUGA:Update Harga HP 2 Jutaan Maret 2026: Sensor Sony & OIS Sudah Turun Harga, Cek Rekomendasinya!
Bahkan saat ia mengatakan uang mukanya sudah dibayar. Ia pernah minta mundur karena merasa keputusan untuk Agrinas Pangan sangat lambat. Setelah ia tidak jadi mundur langkahnya secepat petir.
Saya pun bertanya: apakah tidak khawatir mobil yang dibeli sudah tiba padahal koperasinya belum jalan.