Fir'aun Baik
Fir'aun Baik--Tomy/Pagaralampos
"Di Quran kan disebutkan Fir'aun itu diselamatkan," ujar Ustadz Fauzi Syam al Bandungi.
Saya percaya saja. Takut mendebatnya. Bisa celaka: tidak diantar ke mana-mana. Tentu saya juga takut bercerita kepadanya tentang begitu banyak ahli sejarah yang meragukan peristiwa pembelahan Laut Merah itu.
Mereka sudah meneliti dengan amat mendalam. Tidak ditemukan bukti sejarahnya secuil pun. Apa lagi kini dipamerkan ada mumminya --yang berarti Fir'aun ke-18 tidak tenggelam di Laut Merah.
Ahli arkeologi sendiri terus menemukan mummi baru para Fir'aun dari penggalian situs-situs bersejarah di Mesir. Sudah 26 Fir'aun yang ditemukan. Ukuran tubuhnya tidak banyak beda. Seperti ukuran tubuh kita-kita.
Menurut cerita kuno, waktu memummikan jenazah para Fir'aun itu seluruh isi perut dikeluarkan. Isi perut hanya membuat mayat cepat membusuk.
Kornea mata juga dikeluarkan. Bagian perut itu lantas diisi rempah-rempah. Agar tidak busuk. Setelah itu dibalsem. Lalu bagian badan sampai kaki dibalut sejenis kain. Tersisa kepala dan telapak kaki. Wajah hitam. Telapak kaki hitam.
BACA JUGA:Resep Sambal Pete Pedas Nikmat yang Bikin Nafsu Makan Meledak, Rahasia Bumbunya Ternyata Sederhana!
Memang Fir'aun orang hitam. Dari suku Afrika Timur. Kalau saja reformasi Mesir di tahun 2012 berhasil belum tentu museum semegah ini mampu dibangun. Di pusat kota Kairo pula. Di tanah yang begitu luas. Sekalian membenahi danau alam yang dulunya kumuh.
Kini kawasan Museum Peradaban dan Mummi Mesir ini jadi tujuan wisata yang elite dan indah. Sepuluh tahun berkuasa presiden Mesir mampu membangun dua museum raksasa --satunya di dekat Piramid yang baru selesai akhir tahun lalu.
Mesir akhirnya terselamatkan dari reformasi --aneh, kegagalan reformasi dianggap berkah.
Kalau saja hasil reformasi di Mesir tidak segera dikoreksi bisa-bisa Mesir seperti Yaman sekarang.
Gerakan reformasi di negara-negara Arab (Arab Springs) gagal semua. Di Tunisia pun sekarang sudah kembali otoriter. Libya menjadi sangat kacau. Apalagi Yaman. Untung gerakan itu bisa dicegah di Bahrain --padahal hampir saja meletus.
Reformasi tidak sampai berkembang di Arab Saudi. Dan segera dikoreksi drastis di Mesir. Sejak melakukan koreksi terhadap reformasi itu ekonomi Mesir tumbuh kian cepat.