WNI WNI
WNI WNI--Tomy/Pagaralampos
Kerjanyi pindah-pindah dari Amerika ke Eropa. Sesekali tugas ke Asia tapi ke Shanghai atau Jakarta. Yang merasa kehilangan bukan negara tapi sang orang tua.
Indonesia juga tidak harus merasa kehilangan anak itu. Kita masih punya ratusan juta anak sepertinya. Kita tidak boleh membencinya. Kelak anak itu justru kita perlukan: jadi salah satu titik network Indonesia di Inggris.
Kita tidak hanya perlu satu titik. Kita perlu ribuan, jutaaan, titik network di negara maju. Itu aset bangsa juga. Hanya letak aset itu di luar negeri.
Mungkin Mbak Dwi hanya perlu minta maaf. Akui saja sikap itu justru demi cintanyi pada tanah tumpah darah. Dalam hati kecilnyi Mbak Dwi pasti ingin Indonesia maju seperti Inggris. Hanya saja kok nggak maju-maju. Lalu jengkel.
BACA JUGA:Resep Membuat Cilok Kenyal untuk Berbuka Puasa, Rahasia Anti Alot dan Dijamin Nagih Terbaru 2026!
Kejengkelan itu sampai tersimpan di bawah sadarnyi. Maka ketika di satu pihak ingin menunjukkan kebanggaan, di lain pihak bawah sadarnyi muncul: kejengkelan itu.
Mungkin mem-black list Aryo dan Dwi berlebihan. Kalau pun tidak di-black list umur mereka sudah tidak memenuhi syarat jadi pegawai negeri.
Apakah kelak, 20 tahun lagi, mereka menyesal –seperti diprediksi Menkeu Purbaya– Anda masih bisa saksikan kenyataannya kelak. Berarti si anak, saat itu nanti, berusia 38 tahun.
Apakah benar Indonesia sudah begitu majunya 20 tahun lagi sehingga anak itu akan menyesal, juga bisa kita alami bersama. Itu berarti tahun 2046 –ketika Pak Purbaya masih berusia 81 tahun dan Pak Prabowo berusia 95 tahun.
Tidak sedikit saya bertemu orang Indonesia di luar negeri –di negara yang lebih maju. Sebagian sudah menjadi warga negara setempat. Sebagian lagi sebagai residen permanen.
Umumnya mereka masih sangat Indonesia –tetapi kalau ditanya apakah mau kembali menjadi WNI jawab mereka tegas: tidak.
Tapi kalau ada pilihan lain mereka senang luar biasa: boleh punya dua kewarganegaraan. Salah satunya pasti Indonesia. Setidaknya mereka berharap bisa memegang visa Indonesia seumur hidup –golden visa.
Kalau begitu mengapa soal ini heboh luar biasa?