Mati Kekenyangan
Mati Kekenyangan oleh Dahlan Iskan--Tomy/Pagaralampos
Cuaca Alexandria juga lebih enak daripada Kairo. Pun sampai sekarang. Maka di musim panas penduduk kota ini bertambah tiga juta orang --dari biasanya lima juta. Orang kaya Kairo menghindari panas 46 derajat dengan pergi ke Alexandria.
BACA JUGA:Eksplorasi Wisata Alam dan Budaya di Depok, Destinasi Wajib Dikunjungi
Berakhirnya kerajaan di Mesir baru terjadi ketika saya berumur satu tahun. Republik Mesir tujuh tahun lebih muda dari Republik Indonesia.
Kita merdeka dengan mengusir Belanda. Mesir merdeka dengan mengusir raja.
Tahun-tahun itu rakyat Mesir sangat marah kepada raja: tidak bersikap apa-apa saat negara Israel mulai didirikan di Jerusalem –menduduki Palestina. Bahkan Israel akhirnya menguasai 20 persen wilayah Mesir: seluruh dataran Sinai diduduki Israel.
Raja Farouq memang tidak pernah mikir apa-apa kecuali wanita, wanita dan minuman gila. Hobi lainnya: makan enak dan sangat enak. Makannya harus selalu masakan Prancis dari chef terbaik yang didatangkan ke Alexandria.
Pun ketika sudah mengungsi ke Napoli. Lalu ke Roma. Ia tetap mengoleksi wanita –termasuk Miss Italia saat itu. Akhirnya Raja Farouq meninggal dunia. Penyebabnya, kata rakyat Mesir yang kelaparan: makan kekenyangan. Versi politiknya: mati diracun.
Waktu mengusir raja itu Gamal Abdul Nasser masih letnan kolonel. Lantas jadi presiden pertama Mesir. Jasa terbesarnya adalah: membebaskan Kairo dari banjir abadi. Setiap Sungai Nil meluap wilayah kanan kiri sungai itu terendam air.
Nasser membangun Bendungan Aswan –nun di hulu Sungai Nil. Dananya tidak cukup. Nasser ambil keputusan besar: mengambil alih Terusan Suez.
Sebenarnya investor swasta Prancis itu masih punya hak konsesi 12 tahun lagi. Nasser perlu dana. Konsesi 99 tahun itu pun diakhiri 12 tahun lebih cepat.
Tapi itu bukan nasionalisasi secara paksa. Dapat ganti rugi. Toh sudah mengelolanya selama hampir 80 tahun. Sudah balik modal sejak lama.
Kini terusan Suez menjadi penghasil devisa terbesar kedua bagi Mesir: sekitar USD12 miliar setahun. Yang pertama: dari remiten tenaga profesional Mesir yang bekerja di luar negeri.
Utamanya di Arab Saudi, Emirat Arab, Qatar, Bahrain dan Kuwait. Mereka menjadi profesional perminyakan.