Tarim Duduk
Tarim Duduk--Tomy/Pagaralampos
Tarim Duduk
Oleh: Dahlan Iskan
KORANPAGARALAMPOS.COM - Menu makan malam di rumah warga kampung Aidid itu campuran: Indonesia-Arab.
"Hadza kerupuk," ujar tuan rumah menyodorkan satu kantong plastik. "Wa hadza blinjo," tambahnya.
Beberapa kosa kata Indonesia memang sudah menjadi bahasa Arab di Tarim. Ada 6.000 mahasiswa Indonesia di Yaman. Yang di Tarim saja 3.000 orang.
BACA JUGA:Program MBG Digugat Guru Honorer
"Sarung" juga sudah jadi kosa kata Arab di sana. Demikian juga "almari", "sandal", "kacamata". Kalau "kursi" memang asalnya dari bahasa Arab yang sudah jadi bahasa Indonesia.
"Apa saja yang ada di Indonesia bisa didapat di Tarim. Tempe pun sudah ada yang membuat di sini".
Makan malam itu lima orang: tuan rumah, satu guru asal Mesir, teman si Mesir, satu mahasiswa asal Banjarmasin dan satu cucu tuan rumah yang masih berumur 11 tahun.
Si cucu rajin sekali. Penuh inisiatif. Tanpa ada yang menyuruh. Pun tidak perlu ada kedipanmata tertuju kepadanya. Ia lakukan semuanya secara otomatis. Ia yang mengucurkan air dari teko: untuk cuci tangan kami sebelum makan. Ia yang mengucurkan air teko untuk cuci tangan setelah makan. Ia yang ambilkan air minum. Ia yang memindahkan piring seusai makan.
BACA JUGA:Apa Istimewanya, BMW Motorrad C 400 GT Dijual Rp429,9 Juta di IIMS 2026, Yuk Simak Spesifikasinya!
"Anda yang melakukan semua ini. Apakah karena merasa Andalah yang paling muda di antara kami?" tanya saya kepada si 11 tahun.
Ia hanya tersenyum. Kakeknya yang menjelaskan: itu sudah menjadi adab kami di sini. Itu bagian dari ajaran di dalam keluarga. Bahwa yang paling muda melayani yang lebih tua.
Anak harus mengabdi pada orang tua. Murid menghormati guru. Bakti kepada ibu bagian dari turunnya ridho. Menyakiti hati ibu bagian dari akan datangnya musibah dan kesialan.