Agak Laen

Agak Laen--Tomy/Pagaralampos

BACA JUGA:Toyota Kijang Super 2026 Resmi Hadir, MPV Hybrid 7 Penumpang dengan Harga Lebih Terjangkau

Lalu panik. Tidak ada gunanya lagi.

Tanda kepanikan pertama terlihat dari keluarnya peraturan dari pemerintah: dana asuransi boleh lebih banyak dipakai membeli saham.

Boleh sampai 20 persen. Dulunya dana asuransi amat dibatasi: hanya boleh lima persen yang dipakai main saham.

Tujuan perubahan peraturan itu bisa dibaca dengan jelas: agar indeks harga saham bisa dinaikkan lagi. Artinya: asuransi diminta memborong saham di bursa. Mumpung harga turun.

Tentu yang diincar adalah BPJS Kesehatan dan BPJS Tenaga Kerja. Di situlah yang punya dana ratusan triliun rupiah.

BACA JUGA:Toyota Kijang Super 2026 Resmi Hadir, MPV Hybrid 7 Penumpang dengan Harga Lebih Terjangkau

Kelihatannya masuk akal. Dana asing yang meninggalkan bursa digantikan dana asuransi dalam negeri. Asuransi juga bisa untung karena harga saham lagi turun. Lalu harga saham bisa naik lagi.

Tapi itu dibaca negatif oleh pasar. Itu justru membahayakan asuransi. Kok tidak belajar dari bencana yang menimpa Asabri dan Jiwasraya: uang asuransi bisa ludes lagi di pasar modal.

Bukan itu yang diperlukan pasar global. Lembaga pemeringkat pasar modal Morgan Stanley Capital International (MSCI) sudah merinci apa yang harus diubah di Bursa Efek Indonesia: empat hal saja. Tidak ingin ada pertolongan seperti dari dana asuransi seperti itu.

BACA JUGA:Patahkan Mitos Mobil Listrik! Data 2026 Ungkap Rahasia Mengapa Baterai EV Justru Lebih Awet dari Mesin Bensin

Empat hal yang diminta MSCI itu Anda sudah hafal: perbaikan transparansi data, persentase saham yang dijual bebas, keterbukaan struktur kepemilikan saham di pasar modal, dan tata kelola pasar modal yang lebih baik.

MSCI sangat toleran: memberi waktu sampai Mei depan. Setelah itu barulah MSCI akan mengevaluasi BEI lagi: ada perbaikan yang nyata atau tidak. Kalau tidak maka BEI akan diturunkan kelasnya: ke kelas terbawah –setara dengan bursa di beberapa negara kecil di Afrika. Di Asia kita menjadi sekelas dengan Bangladesh dan Sri Lanka.

Kelas itu disebut sebagai ''kelas Frontier''. Pemula. Padahal selama ini BEI sudah berada di kelas Emerging. Di atas emerging barulah kelas Developed.

BACA JUGA:Honda Jazz Facelift 2026, Hatchback Hybrid Futuristik dengan Teknologi e:HEV dan Fitur ADAS Canggih

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan