HWW
HWW --Tomy/Pagaralampos
Dari berbagai pertanyaan itu bisa disimpulkan dugaan sakit apa. Lalu obatnya apa. Perlu ke rumah sakit atau tidak.
BACA JUGA:John Herdman Sudah Dipuji Pemain Persib Bandung Beckham Putra
Di IGD rumah sakit itu sendiri ada tiga petugas yang menunggui aplikasi itu. Yang utama: seorang perawat terlatih. Lalu perawat lain yang mengecek lebih teliti. Orang ketiganya adalah dokter.
Pada ujung aplikasi, perawat terlatih menyimpulkan dugaan sakit apa. Lalu si PT bertanya: di rumah punya obat apa. Kalau obat itu cocok dengan keluhannya maka diminta minum obat tersebut. Tidak perlu beli obat. Tidak perlu datang ke rumah sakit.
"Saya dulu mengirim banyak perawat Tulungagung untuk belajar kedaruratan di Malaysia," ujar Supriyanto.
Kalau si PT tidak mampu memberikan kesimpulan ia/dia bisa bertanya ke dokter jaga yang ada di sebelah.
BACA JUGA:Ditinggal Shin Tae-yong, Timnas Indonesia Diprediksi Kesulitan Lawan Vietnam di Piala AFF 2026
Maka aplikasi tersebut menjadi IGD tanpa dinding. Siapa saja bisa masuk ke sana. Langsung ditangani. Baru yang benar-benar harus datang ke rumah sakit diminta datang.
Hebatnya IGD di sana tidak dijaga oleh dokter muda. Atau dokter yang baru lulus. Yang datang ke IGD adalah pasien yang sakitnya tidak sederhana. Yang sederhana sudah diselesaikan di rumah masing-masing.
Maka dokter jaga di IGD-nya Tulungagung adalah dokter spesialis. Yakni spesialis kedaruratan. Sudah agak lama ada program studi spesialis kedaruratan di banyak fakultas kedokteran.
Sistem aplikasi itu mengatur sampai ke pengadaan obatnya. Maka sulit diintervensi oleh kepentingan politik lokal.
BACA JUGA:Pilihan Warna Toyota Avanza 2026, Dark Grey Jadi Favorit Paling Kekinian
Aplikasi itu juga terhubung ke Puskesmas di setiap kecamatan. Waktu jadi dokter teladan tingkat nasional dulu ia sudah menerapkan itu di Puskesmas di kabupaten Kerinci, Jambi.
Ia jarang terlihat di Puskesmas. Ia datang ke masyarakat: menerapkan penanganan kesehatan preventif. Orang yang sakit ditangani di rumah-rumah mereka.
"Puskesmas tidak boleh bangga karena banyak didatangi masyarakat. Itu berarti dokternya gagal menjalankan misi," katanya. Tenaga di Puskesmas harus lebih banyak di lapangan. Menemui dan mendata penduduk dengan segala penyakit mereka.