Nighu, Kerajinan Anyaman Bambu Khas Rempasai yang Bangkit Kembali
TRADISI: Warga Rempasai membangkitkan tradisi dengan mengembangkan kembali kerajinan Niru yang kian langka.--Edo/Pagaralampos
KORANPAGARALAMPOS.COM - Kerajinan nighu dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai tampah yang sempat nyaris punah, kini kembali hidup dan berkembang di Desa Rempasai, Kecamatan Pagar Alam.
Warga setempat dengan penuh semangat bertekad melestarikan kerajinan tradisional berbahan bambu ini, sekaligus menjadikannya peluang ekonomi yang menjanjikan.
Salah satu pengrajin, Tar, menuturkan bahwa proses pembuatan nighu membutuhkan ketelatenan dan keahlian khusus.
Tahapan awal dimulai dengan memanggang bambu terlebih dahulu, lalu dibelah atau dialit secara hati-hati. Setelah itu, bambu dijemur selama dua hari agar tetap kering dan kuat.
BACA JUGA:Siapkan Beasiswa Patriot untuk 1.100 Peserta
Proses selanjutnya adalah penganyaman, yang menjadi inti dari pembuatan nighu.
Anyaman bambu disusun hingga membentuk bingkai yang kokoh dan tahan lama.
Nighu yang telah jadi kemudian dijemur kembali sambil diberi ubhag untuk memastikan serat bambu tetap keras dan tidak mudah rapuh.
Dalam sehari, seorang pengrajin rata-rata mampu menghasilkan satu nighu siap jual. Harga nighu buatan tangan ini berkisar antara Rp25.000 hingga Rp30.000 per unit, tergantung ukuran dan tingkat kerapian.
BACA JUGA:Kembali Bergairah: Bocoran Honda Supra GTR 150 2026, Desain Agresif Mirip Moge CBR1000RR-R!
Produk ini biasa digunakan untuk berbagai keperluan tradisional, seperti menampi beras, kopi, serta menyimpan bahan makanan lainnya.
Seiring kualitas yang terus terjaga dan harga yang terjangkau, kerajinan nighu kini mulai diminati pasar. Tar berharap, ke depan kerajinan ini semakin dikenal luas, baik oleh pembeli lokal maupun luar daerah.
“Harapan saya, kerajinan nighu ini terus maju dan semakin banyak yang tertarik memesan.
BACA JUGA:Era Baru: Harley-Davidson Luncurkan Lini 2026, Hadirkan Mesin VVT 117 dan Teknologi Satelit!