Anwar Ali

Anwar Ali--Tomy/Pagaralampos

Problem ini pernah dialami oleh Batam di awal pembangunannya dulu. Juga terjadi di Kaltim ketika industri kayu lapis mulai bangkit di sana: muncul kampung-kampung kumuh di Loa Janan dan seterusnya.

BACA JUGA:Prabowo Sebut Ada Pihak Luar yang Tidak Suka Indonesia Kuat

Kampung kumuh di sekitar GNI ini seperti kota kecil tak berpemerintahan. Semua orang merasa berhak membangun apa saja dengan bangunan seperti seenaknya.

GNI telah jadi gula yang didatangi semut tanpa komando. GNI sendiri ternyata tetap beroperasi. Pun ketika induk GNI telah bangkrut: Jiangshu Delong Nickel Industries.

Rupanya restrukturisasi akibat kebangkrutan itu bisa dilakukan. Induknya bangkrut tapi anak-anaknya yang masih menguntungkan bisa ikut pemilik baru.

Kami terus berkendara menuju ibu kota Morowali: Bungku. Kalau tidak ke sini saya tidak tahu kalau ibu kota Morowali itu bernama Bungku. Masih satu jam lagi di depan.

BACA JUGA:Prabowo Sebut Ada Pihak Luar yang Tidak Suka Indonesia Kuat

Tiba di kecamatan Wosu, suami Mega menunjuk satu rumah bagus di pinggir jalan: "itu rumah Pak Anwar Hafid", katanya.

Anwar adalah gubernur Sulteng saat ini. Ia mantan bupati Morowali. Dua periode. Di Pilgub tahun lalu ia mengalahkan Ahmad Ali, politikus Nasdem yang kini jadi ketua harian Partai Solidaritas Indonesia, PSI.

Orang manakah Ahmad Ali?

"Rumahnya di sebelah rumah Anwar Hafid tadi. Hanya selisih lima rumah," ujarnya. Berarti di Pilgub yang lalu dua calonnya tokoh yang bertetangga dekat di Wosu.

BACA JUGA:Prabowo Sebut Ada Pihak Luar yang Tidak Suka Indonesia Kuat

Anwar dapat suara 48 persen. Ahmad Ali 38 persen. Sisanya untuk gubernur incumbent: Rudy Mastura.

Waktu pencalonan gubernur itu Ahmad Ali masih pakai kendaraan Nasdem. Di kongres PSI setelah itu ia terpilih jadi wakilnya Kaesang Pangarep.

Saya pun mampir ke rumah di seberang rumahnya Ahmad Ali. Rumah berhadapan itu sama bagusnya. Sama modernnya. Sama warna catnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan