Tanpa Awak
Tanpa Awak--Tomy/Pagaralampos
Maka setelah tiga bulan kuliah di ITB Kaharuddin berangkat ke Jepang. Satu tahun tinggal di Tokyo dulu, khusus untuk belajar bahasa Jepang.
BACA JUGA:Media Belanda Sebut John Heitinga Beri Sinyal ke Timnas Indonesia
Sambil kuliah Kaharuddin belajar sendiri di bidang neuro network. Juga belajar genetic algorithms. Maka ketika mendalami naval architects ia menggabungkannya dengan genetic algorithms dan neural network. Itulah cikal bakal artificial intelligence di kemudian hari.
Akhirnya Kaharuddin memang menggabungkan desain kapal dengan artificial intelligence --setelah AI kian berkembang di Jepang.
Pulang dari Jepang, Kaharuddin membuat perusahaan desain kapal di Indonesia. Lalu mengajukan usulan membuat kapal selam tanpa awak ke Kementerian Pertahanan. Tapi usulan itu mentok. Berhenti hanya sampai di tingkat dirjen.
Setelah Prabowo Subianto menjabat menteri pertahanan, Kaharuddin mengajukan lagi: konsep Pagar Nusantara. Ia diterima langsung Prabowo. Itulah kali pertama Kaharuddin bertemu Prabowo.
BACA JUGA:Timnas Indonesia U-22 Siap Tempur Hadapi Filipina di Laga Pembuka
Ia ajukan gagasan kapal selam tanpa awak itu. Prabowo sangat tertarik. Pertemuan yang rencana setengah jam menjadi 4,5 jam.
Prabowo lantas merayunya untuk menjabat dirut PT PAL. Agar konsep Pagar Nusantara bisa terlaksana.
Kini PT PAL sangat sibuk. Pekerjaannya sangat banyak. Status kredit macetnya yang call 4, kini sudah call 1.
Maka ke depan PT PAL akan kian sibuk. Inilah kebangkitan PT PAL dari keterpurukannya selama puluhan tahun. Apalagi pesanan dari luar negeri juga mengalir deras.
BACA JUGA:Resto Kemuning Siapkan Menu Spesial Nataru
"Indonesia menjadi negara keempat yang mampu membangun sendiri kapal selam tanpa awak," ujar Kaharuddin. Yakni setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok.
Saya bertemu Kaharuddin tiga hari lalu. Yakni di dalam pesawat Garuda menuju Surabaya.
Malam itu saya duduk di kelas ekonomi. Nomor 36. Setelah pesawat mengangkasa ada tangan menjawil pundak saya dari belakang. Saya menoleh. Ternyata Kaharuddin duduk di deretan belakang saya.