Setelah Hujan
Setelah Hujan--Tomy/Pagaralampos
BACA JUGA:Wako Pagar Alam Sambut Baik Research Polsri untuk Tingkatkan PAD Pariwisata
Bahkan banjir akhir November itu sampai ke Subulussaman. Sebelum itu seluruh Tapanuli dan sekitarnya juga dilanda banjir. Bahkan sampai ke bawah lagi: sampai Sumatera Barat.
Baru kali ini seluruh Aceh --dan sebagian wilayah Sumut yang berbatasan dengan Aceh-- dilanda banjir sebesar ini.
Memang, akhir pekan lalu, hujan turun luar biasa deras. Sepanjang hari. Selama tujuh hari. Tapi banyaknya kayu gelondongan yang hanyut, menandakan penebangan hutan masih terus terjadi.
Ada pejabat di sana yang beralasan itu kayu tumbang. Tentu dengan mudah terbantahkan. Ukuran panjang kayunya sama.
BACA JUGA:Mahasiswa Uniled Gerak Serentak Galang Dana untuk Korban Banjir Sumatera
Bahkan begitu hujan reda truk-truk besar sudah mulai terlihat kembali mengangkut kayu gelondongan --seolah mengejek korban bencana yang ditimbukkannya.
Meski sudah dua hari tidak lagi hujan masih banyak daerah di kabupaten Bener Meriah yang masih terisolasi. Sangat sulit menyalurkan bantuan ke kantong-kantong isolasi itu.
Di Sumatera Utara, ketika jalan masih becek akibat banjir yang baru saja surut, truk-truk sudah berani mengangkut kayu hasil tebangan.
Berarti seminggu lagi para penebang sudah lebih berani. Apalagi sebulan kemudian --dan hari-hari setelah itu.
BACA JUGA:Tiga Kementerian Bersinergi Kelola 20 Stadion untuk Dongkrak Ekonomi Daerah
Saya tidak tahu di mana bencana yang paling parah: Sumbar, Sumut atau Aceh. Dari jumlah korban Sumut 293 jiwa, Sumbar 165 jiwa dan Aceh 173 jiwa. Jumlah meninggal dunia 631 jiwa.
Maka wajar kalau kemarahan publik sangat luas. Bukan hanya di Sumatra, juga di Jawa. Apalagi ketika melihat parahnya kerusakan dan banyaknya penderitaan.
Misalnya terlihat di video bagaimana rumah hanyut dalam keadaan hanya terlihat atapnya. Juga satu kampung yang tergerus serentak bersama longsoran tanah.
Kelihatannya tidak hanya manusia yang marah pada manusia. Alam pun marah pada manusia serakah.