Soedomo Bawazier
Soedomo Bawazier--Tomy/Pagaralampos
BACA JUGA:Pemkot Pagar Alam Torehkan Capaian Nasional
Kelak, di tahun 1927, ketika Pak Go mendirikan pabrik kopi, memberinya merek Kapal Api. Meski disebut pabrik, yang didirikan sang Ayah hanyalah pabrik kecil di atas tanah 70m2.
Pabrik itu berada di Jalan Panggung –pecinannya Surabaya. Sekitar 500 meter dari situ ada Jalan Sasak, sudah masuk perkampungan orang Arab –di kawasan Ampel. Kampung Arab dan Kampung Tionghoa memang bersebelahan di Surabaya.
Di masa kecil Soedomo kalau bermain ya sampai kampung Arab itu. Sampai ke Jalan Sasak.
Di Jalan Sasak itu ada toko sarung. Pemiliknya: keluarga Bawazier –tidak ada hubungan keluarga dengan mantan Menkeu Fuad Bawazier.
BACA JUGA:Wali Kota Ludi Oliansyah Terima Kunjungan MUI
Bawazier punya delapan anak. Salah satunya Kholid Bawazier. Seumuran dengan Soedomo.
Setelah sama-sama jadi pengusaha besar Soedomo dan Kholid Bawazier bikin kongsi: mendirikan pabrik Kapal Api Wazaran, di Jeddah ini.
Tentu saya juga kenal Kholid Bawazier. Kholid, anak ketiga pemilik toko sarung di Jalan Sasak, itu pengusaha Arab terbesar di Surabaya saat ini.
Kholid jadi pengusaha atas perintah ibunya. "Kamu tidak usah kuliah. Kasihan bapakmu. Sudah tua. Bantu usaha bapakmu," begitu kurang lebih pesan sang ibu.
BACA JUGA:Syukuran Pelantikan 102 ASN Satpol PP
Kholid menurut. Kakak sulungnya jadi dokter: Razak Bawazier. Aktivis. Gila sepak bola –pengurus klub Asyabaab dan Persebaya. Juga pengurus Al Irsyad, perkumpulan warga keturunan Arab.
Kakak Kholid yang lain lulus teknik mesin ITS. Dua adik perempuannya semua dokter gigi. Pokoknya semua sarjana. Hanya Kholid yang tidak kuliah. Ia anak yang mau berkorban demi permintaan ibunya.
"Tidak menyesal kan?" tanya saya kepada Kholid.
"Sama sekali tidak," jawabnya.