Garis Kemampuan

Disway--Pagaralam Pos

"Tidak," katanyi. "Mungkin hanya karena saya wanita. Lebih banyak pakai otak kiri," tambahnyi.

BACA JUGA: Cari Pelatih Baru Timnas Indonesia, PSSI Akan Belajar dari Pengalaman Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert

Lalu Bu Mul membuka rahasia gaya hidupnyi. "Saya ini orang yang selalu hidup di bawah garis kemampuan," katanyi. Saya tertawa --terkecoh dengan kalimat plesetan itu.

"Dulu, ketika uang saya sedikit, saya sudah merasa cukup. Kini uang saya banyak juga hanya merasa cukup".

Meski dua tahun terakhir mampu membuka 12 outlet baru, tidak berarti tiap tahun membuka outlet. Pernah beberapa tahun sengaja tidak mau buka outlet baru. Dia pilih benah-benah internal Dea. Termasuk hanya fokus pada kebersihan dan kesehatan di pabriknyi.

Cara bicara Bu Mul agak khas --menandakan bukan orang Malang. Bunyi 'r' nyi cedal.

"Saya Tionghoa," katanyi.

Campuran?

BACA JUGA:PSSI Tak Buru-buru Cari Pengganti Patrick Kluivert di Timnas Indonesia

"Asli. Bapak saya Tionghoa. Ibu saya Tionghoa," katanyi.

Saya pun memperhatikan mata dan wajahnyi.

Saya pun bertanya ke Pak Lurah yang satu meja dengan saya. "Apakah Pak Lurah tahu kalau bu Mul ini Tionghoa?"

"Baru tahu sekarang," katanya.

Saya juga baru tahu kemarin itu. Padahal saya sudah kenal bu Mul delapan tahun lalu. Waktu itu ada forum UMKM.

"Siapa yang sudah pernah merasakan bangkrut?" tanya saya di awal bicara.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan