Tak Lagi Jadi Perdebatan di Medsos
Tak Lagi Jadi Perdebatan di Medsos--Pagaralam Pos
KORANPAGARALAMPOS.COM – Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, meminta masyarakat untuk tidak memperpanjang polemik yang melibatkan Walikota Prabumulih, Arlan, terutama di media sosial.
Menurutnya, kegaduhan yang terus bergulir justru berpotensi menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
Deru menegaskan bahwa persoalan tersebut sejatinya sudah ditangani sejak awal di tingkat daerah, bahkan sebelum dibahas dalam forum resmi bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
BACA JUGA:Nabi Baru
Ia menilai langkah itu sebagai bentuk penyelesaian yang mengedepankan dialog.
“Masalah ini sudah kami tangani di daerah sebelum berangkat ke Kemendagri. Semua pihak diundang untuk berdialog dan mencari jalan keluar bersama,” ujar Deru, usai menghadiri sebuah acara di Palembang, Jumat (19/9).
Ia menambahkan, kritik yang disampaikan masyarakat dan tokoh-tokoh daerah tetap diapresiasi, selama dilakukan dengan cara yang konstruktif. Bagi Deru, keterbukaan dan semangat demokrasi harus menjadi pegangan bersama untuk menjaga keharmonisan.
BACA JUGA:PATRICK Kluivert panggil Ilias Alhaft ke Timnas Indonesia
Menurut Gubernur, kegaduhan yang tak kunjung berhenti, apalagi jika dipicu oleh komentar di dunia maya, bisa merugikan iklim sosial di Sumatera Selatan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan persoalan ini sebagai bahan introspeksi, bukan ajang saling serang.
“Harapan saya, setelah dituntaskan di level provinsi dan pusat, mari kita hentikan kegaduhan ini. Tidak ada manusia yang sempurna, yang penting kita ambil hikmah dan perbaikan dari setiap kejadian,” ucapnya.
BACA JUGA:Masyarakat Malaysia Cium Aroma Timnas Indonesia Dicurangi Wasit Kuwait saat Lawan Arab Saudi
Terkait sanksi Kemendagri, Deru menjelaskan bahwa sifatnya administratif dengan tahapan berbeda, mulai dari peringatan lisan, peringatan tertulis, hingga sanksi yang lebih tinggi sesuai ketentuan perundangan.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kondusivitas daerah harus tetap dijaga. Prinsip zero conflict, kata Deru, tidak hanya berarti bebas dari konflik fisik, tetapi juga dari ketegangan sosial yang bisa memecah belah masyarakat.