Nabi Baru
Disway--Pagaralam Pos
BACA JUGA:Kelurahan Tebat Giri Indah Gencarkan Penagihan PBB
Saat tawaf, 11 orang tersebut membentuk satu lingkaran. Jabir di tengah. Bacaan doa tawaf dikumandangkan keras-keras. Sambil mengelilingi Kakbah. Setiap satu bacaan doa diselingi satu bacaan yang membuat pelaku tawaf lainnya terkesima. Bacaan tambahan itu bunyinya begini: "Qod ja-a imamul muslimin ... wa hua Al Mahdi Al Muntadhor... Ismuha Al Jabir". Artinya Anda sudah tahu: telah datang pemimpin untuk orang Islam seluruh dunia, Al Mahdi, Al Muntadhor, dan ia itu bernama Al Jabir.
Itu diucapkan terus menerus sambil mengelilingi Kakbah di sela-sela doa tawaf.
Masih ada satu bacaan yang juga dikumandangkan seirama dengan doa tawaf: "Qod ja-a rosulun min anfusikum ... wa hua Al Mahdi, Al Muntadhor, wa ismuha Al Jabir..". Artinya lebih tegas. Soal kerasulan Al Jabir: "Telah datang rasul dari golongan kamu sendiri... Al Mahdi, Al Muntadhor, dan nama rasul itu adalah Al Jabir".
Sampai selesai mengelilingi Kakbah, tujuh kali, mereka aman. Matahari sudah terbit. Mereka mencari tempat untuk melaksanakan salat Idulfitri. Mereka pilih lokasi antara Hajar Aswad (pojokan Kakbah yang berbatu hitam) dengan makam Ibrahim. Nabi Muhammad yang jadi imam. Salat dua rakaat pun selesai. Aman. Tapi polisi Masjidilharam mulai memperhatikan mereka. Antara lain karena arus orang tawaf mulai tersendat di situ.
Usai jadi imam, nabi Muhammad bangkit. Meraih tongkat. Mereka membawa tongkat itu dari Medan. Muhammad pun mulai khotbah. Di situlah ia mendeklarasikan sebagai rasul dan nabi. Lengkap dengan argumentasi ayat-ayat Qurannnya. Dan suara lantangnya. Termasuk saat menyerukan "Ud 'u ni" –jadilah pengikutku. Itu diucapkan dalam bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
Belum sampai khotbah itu selesai, polisi kian banyak. Mereka ditangkap. Diborgol. Tangan. Kaki. Dimasukkan mobil. Ditahan.
BACA JUGA:Kelurahan Tebat Giri Indah Gencarkan Penagihan PBB
Selama 28 hari mereka tidak bisa mandi. Tidak ganti baju. Borgol terkunci permanen di tangan dan kaki. Jubahnya sudah disita. Pun tongkatnya. Tinggal baju putih panjang lengan panjang. "Sampai warnanya menjadi hijau berlumut," ujar Harmain.
Mereka beberapa kali diambil darah. Diperiksa. Kelihatannya akan dilihat apakah ada ditemukan kelainan jiwa. Hasilnya: sehat semua.
Di setiap pemeriksaan mereka tetap berpegang pada ayat bahwa harus ada nabi dan rasul di setiap kaum. Atau ayat akan turunnya Imam Mahdi –dan itu Al Jabir.
Bahwa nama Imam Mahdi itu Al Jabir dari Medan, mereka berhujah apa bedanya dengan ayat tentang akan munculnya nabi bernama Ahmad dan yang muncul kemudian ternyata bernama Muhammad SAW.
Mereka juga berhujah bahwa setiap zaman harus muncul rasul dan nabi. Untuk memperbaiki akhlak yang rusak –seperti sekarang ini.
"Kenapa harus ada nabi. Kan sudah ada ulama?" tanya saya.
BACA JUGA:Lurah Tanjung Agung Ajak Warga Giat Gotong Royong Cegah Banjir