Damaskus, Jantung Peradaban Dunia yang Terus Dihuni Manusia
Damaskus, Jantung Peradaban Dunia yang Terus Dihuni Manusia-net-kolase
KORANPAGARALAMPOS.COM - Di sudut barat daya Suriah, berdiri sebuah kota yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah manusia selama lebih dari 10.000 tahun.
Kota itu adalah Damaskus, ibu kota Suriah, yang dikenal luas sebagai kota tertua di dunia yang terus dihuni manusia tanpa henti hingga kini.
Dijuluki sebagai “Mutiara Timur”, Damaskus telah memainkan peran penting dalam sejarah peradaban, budaya, dan perdagangan global, menjadikannya permata abadi di jantung Timur Tengah.
BACA JUGA:Eksplorasi Keunikan Gunung Patah, Keanekaragaman Hayati dan Kisah Suku Sindai
Secara geografis, Damaskus terletak di dataran tinggi sekitar 680 meter di atas permukaan laut, dikelilingi oleh pegunungan dan oasis subur yang menjadi penyangga kehidupan.
Letaknya yang strategis di antara jalur perdagangan kuno menghubungkannya dengan Mesopotamia, Anatolia, Mesir, hingga Timur Jauh.
Kota ini menjadi pusat distribusi rempah-rempah, sutra, dan barang mewah lainnya sejak zaman kuno.
Bukti arkeologis di situs Tell Ramad menunjukkan bahwa wilayah Damaskus telah dihuni sejak 8.000–10.000 tahun sebelum masehi.
BACA JUGA:Mengungkap Misteri Bukit Kaba, Keindahan Alam yang Dibalut Mitos Abadi
Dalam teks kuno Mesir abad ke-15 SM, kota ini telah disebut sebagai Dimasqu, menunjukkan peran administrasinya yang penting sejak masa lampau.
Damaskus pernah menjadi pusat kerajaan Aram, berada dalam pengaruh Asyur, Babilonia, Persia, dan kemudian ditaklukkan oleh Alexander Agung.
Pada masa Helenistik dan Romawi, Damaskus tetap bersinar sebagai kota penting.
Ketika Kekaisaran Romawi terbagi, Damaskus menjadi bagian dari wilayah Bizantium, yang kemudian direbut oleh pasukan Islam di bawah Khalid bin Walid pada 634 M.