Hikikomori, Fenomena Sosial yang Makin Mengkhawatirkan di Jepang

Hikikomori, Fenomena Sosial yang Makin Mengkhawatirkan di Jepang-pagaralam pos-kolase

BACA JUGA:Jejak Buddha di Jantung Afghanistan

Fenomena ini mulai meningkat sejak krisis ekonomi Jepang pada era 1990-an, yang dikenal sebagai The Lost Decade. 

Tekanan untuk sukses secara akademis dan profesional sangat tinggi, sementara peluang kerja menyempit. 

Bagi sebagian orang, kegagalan menjadi beban psikologis berat yang berujung pada penarikan diri dari kehidupan sosial.

Menurut survei pemerintah Jepang tahun 2019, diperkirakan ada lebih dari 1,15 juta orang yang mengalami Hikikomori, mayoritas berusia 15 hingga 39 tahun. 

BACA JUGA:Suku manakah yang paling banyak di Dunia??

Pandemi COVID-19 juga memperparah situasi ini. 

Survei pada 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 20% responden usia muda mengalami isolasi sosial selama enam bulan atau lebih, dengan pandemi sebagai pemicu utama.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Jepang. 

Kasus serupa juga ditemukan di Korea Selatan (honjok), Italia (ritiro sociale), Amerika Serikat, hingga Indonesia. 

BACA JUGA:Ternyata Ada Lebih dari 2000 Bahasa yang Masih Digunakan di Dunia

Di kalangan anak muda Indonesia, istilah “nolep” (dari no life) sering digunakan untuk menggambarkan gaya hidup yang tidak produktif dan minim interaksi sosial mirip dengan Hikikomori.

Para ahli, seperti Profesor Takahiro Kato dari Universitas Kyushu, menyatakan bahwa Hikikomori bukan hanya persoalan mental, tetapi juga budaya dan struktur sosial. 

Budaya malu, ekspektasi tinggi, dan tekanan sosial membuat banyak individu merasa tidak mampu menghadapi dunia luar.

Menghadapi Hikikomori memerlukan pendekatan menyeluruh, mulai dari dukungan psikologis, pendidikan, hingga reformasi sosial. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan