Jalur Sutra, Nadi Perdagangan Dunia yang Hilang Ditelan Sejarah
Jalur Sutra, Nadi Perdagangan Dunia yang Hilang Ditelan Sejarah-pagaralampos-kolase
Agama Buddha, Kristen, Zoroastrianisme, dan Islam menyebar dan berkembang melalui jalur ini, membentuk komunitas dan pusat-pusat budaya yang beragam.
Perdagangan di Jalur Sutra berlangsung dalam sistem estafet.
BACA JUGA:Gugah Semangat Perjuangan – Nilai-nilai Sejarah Bangsa
Karavan unta mengangkut barang dari satu oasis ke oasis lain, dengan kervansarai sebagai tempat peristirahatan dan perlindungan.
Di jalur laut, para pelaut memanfaatkan pola angin muson untuk berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain dengan aman.
Jalur Sutra mencapai masa kejayaannya pada masa Dinasti Tang (abad ke-7 sampai ke-10 M).
Kota Chang’an, pusat dinasti ini, menjadi kota besar yang penuh dengan pedagang dan intelektual dari berbagai penjuru dunia.
BACA JUGA:Nova Arianto Masuk Buku Sejarah
Pada masa Dinasti Song, jalur maritim juga berkembang pesat, menjadi jalur penting yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tenggara dan India.
Kemudian pada abad ke-13, kekaisaran Mongol berhasil menguasai wilayah yang sangat luas, dari Asia hingga Eropa Timur.
Masa “Pax Mongolica” ini membawa stabilitas dan keamanan bagi para pedagang, sehingga jalur sutra kembali hidup dan ramai.
Pemerintah Mongol juga membangun sistem pos dan kervansarai guna mempermudah perjalanan.
BACA JUGA:Menguak Pesona Italia, Wisata Alam, Pantai, hingga Bangunan Bersejarah
Namun, perubahan besar terjadi pada abad ke-15.
Penemuan jalur laut oleh pelaut Eropa, terutama setelah perjalanan Vasco da Gama ke India, membuka rute perdagangan baru yang lebih cepat dan efisien.