Tradisi Jawa: Pantangan dan Mitos Malam 1 Suro
Tradisi Jawa. Pantangan dan Mitos Malam 1 Suro--Net
Berbeda dengan Solo, di Yogyakarta, perayaan malam pertama Suro umumnya dilakukan dengan membawa keris dan barang pusaka dalam sebuah perayaan karnaval.
BACA JUGA:Bikin Ngiler! Ini 7 Makanan Khas Solo yang Pas Banget untuk Buka Puasa
1. Mubeng Benteng
Ritual atau tradisi ini dilakukan sebagai simbol penebusan kesalahan atau pengendalian diri serta permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pada malam hari, prosesi Mubeng Benteng dimulai dengan berjalan kaki dari Keraton Yogyakarta, dari alun-alun utara menuju bagian barat (Kauman), selatan (Beteng Kulon), timur (Pojok Beteng Wetang), kemudian kembali ke utara dan kembali ke Istana.
Saat prosesi Mubeng Benteng, para abdi dalem mengenakan busana khas Jawa dan tidak menggunakan alas kaki.
BACA JUGA:Liburan Ke Solo? Jangan Lupa Cicipi Kuliner Khasnya Yang Membuat Lidah Bergetar
Di belakang mereka, masyarakat menyaksikan acara tersebut sambil tetap tidak mengenakan alas kaki.
Berjalan tanpa alas kaki melambangkan kedekatan dan rasa cinta terhadap alam semesta.
Selama perjalanan, semua pejabat istana dan peserta umum memakai tasbih di jari tangan kanan dan mengucapkan doa kepada Tuhan.
2. Jamasan Pusaka atau Ngumbah Keris
BACA JUGA:Mengungkap Misteri Gunung Kawi, Kisah, Ritual, dan Larangannya!
Pada malam 1 Suro, juga dilakukan prosesi Jamasan pusaka atau pusaka Silaman di Keraton Yogyakarta.
Dalam upacara ini, benda-benda pusaka Keraton Yogyakarta dibersihkan dan dicuci.
Benda-benda yang diperlakukan dengan cara ini mencakup senjata, kereta, perlengkapan berkuda, bendera, tanaman, gamelan, tekstil (naskah), dan lainnya.