Poo Cendana
Disway--Pagaralam Pos
Aula vihara itu juga tidak dihias. Kursi-kursinya pun bukan kursi VIP.
BACA JUGA:Jangan Dilewatkan! Ini Manfaat Air Tebu untuk Kesehatan
Sejak jenazah Pak Poo tiba, selalu ada yang membaca ''tahlil'' –doa-doa menurut agama Buddha.
Sekitar 30 orang yang bersamaan membaca doa. Laki perempuan. Campur Tionghoa Jawa. Dari berbagai vihara dan berbagai aliran Buddha.
Begitulah tiap hari. Sepanjang siang dan setengah malam. Sampai tiba hari kremasi nanti.
Pihak keluarga mengira saya akan bermalam di Mendut. Saya disiapkan kamar di kompleks vihara satunya --yang lebih dekat dengan Borobudur. Vihara Padmasambhava. Vihara ini dipercaya ''keagungannya'' karena terletak persis di tengah segitiga emas: Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon.
BACA JUGA:Manfaat Teh Pahit bagi Kesehatan yang Jarang Diketahui!
Saya memang pernah bermalam di vihara tersebut. Hartati Murdaya juga punya kamar tidurnya sendiri di situ.
Saat saya ngobrol dengan Karuna seseorang melapor: Pak Ahok datang. Terlihat Ahok masuk aula. Disertai Puput, istrinya. Terlihat juga Tenggono dari Wuling. Setelah Ahok berdoa di dekat jenazah, saya lambaikan tangan. Ia pun bergabung di meja kami. Ngobrol banyak hal.
Ahok yang akan bermalam di vihara bersama sang istri.
"Kenapa pilih dikremasi tanggal 7 Mei?”
BACA JUGA:Inilah Sup Ikan Patin Kuah Kuning, Yang Mampu Bikin Ketagihan?
"Itu hari ulang tahun perkawinan Papa dan Mama," ujar Karuna. Ulang tahun ke-53. Sekaligus berdekatan dengan hari bakti sosial tanggal 10 Mei dan hari raya Waisak tanggal 12 Mei.
Setiap menjelang Waisak Hartati memang selalu berada di Borobudur. Acara sangat besar dia laksanakan di situ.
Sambil menunggu hari kremasi, pihak keluarga mengurus izin ke kementerian kebudayaan. Sudah dapat. Juga ke instansi lain.