Meski Ada Tantangan, Bank Indonesia Percaya Ekonomi Indonesia 2025 Akan Tumbuh Stabil
Meski Ada Tantangan, Bank Indonesia Percaya Ekonomi Indonesia 2025 Akan Tumbuh Stabil--
KORANPAGARALAMPOS - Meski Ada Tantangan, Bank Indonesia Percaya Ekonomi Indonesia 2025 Akan Tumbuh Stabil
Bank Indonesia (BI) tetap optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 akan berada dalam kisaran target sasaran, yakni sebesar 4,7% hingga 5,5%.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan keyakinannya berdasarkan sejumlah indikator ekonomi yang dipantau oleh Bank Indonesia, meskipun ada beberapa tantangan yang dihadapi.
Salah satunya adalah penurunan kemampuan rumah tangga dalam membayar cicilan, yang tercermin dari kenaikan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) di perbankan.
Pada konferensi pers yang berlangsung pada Rabu, 19 Maret 2025, Perry menjelaskan bahwa meskipun Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mengalami penurunan pada Februari 2025 menjadi 126,4, hal tersebut masih menunjukkan tingkat keyakinan yang cukup positif.
BACA JUGA:Kebijakan Perdagangan Trump dan Dampaknya terhadap Bank Sentral Global
IKK tersebut memang turun 1,2 poin dibandingkan bulan Januari 2025 yang tercatat sebesar 127,2, namun tetap berada di atas angka 100. Hal ini menandakan bahwa konsumen masih memiliki rasa optimis terhadap kondisi ekonomi ke depan, meskipun ada sedikit penurunan dalam keyakinan mereka.
“Indeksnya masih di atas 100, memang agak kebawah bukan berarti di bawah 100. Kalau di atas 100 masih cukup confidence,” ungkap Perry. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan, level keyakinan konsumen masih cukup tinggi untuk mendukung konsumsi domestik yang berkelanjutan.
Namun, Perry juga mencatat adanya tantangan di sektor rumah tangga. Kemampuan mereka dalam memenuhi kewajiban cicilan tampaknya sedikit tertekan, yang terlihat dari kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL).
Pada Januari 2025, rasio NPL tercatat sebesar 2,18%, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar 1,9%, serta Desember 2024 yang tercatat sebesar 2,02%.
BACA JUGA:Dinamika Suku Bunga, Respons Bank Sentral terhadap Kebijakan Perdagangan Global
Meskipun demikian, Perry menegaskan bahwa kondisi ini tidak cukup untuk menggoyahkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Kendati ada tekanan pada sektor rumah tangga, BI masih melihat konsumsi rumah tangga sebagai salah satu motor penggerak utama perekonomian.
Perry menyarankan agar konsumsi rumah tangga tetap didorong melalui beberapa inisiatif, seperti pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan belanja sosial pemerintah.