Sejak menjabat dirut PT DI di tahun 2022 --waktu itu Prabowo Subianto menjabat menteri pertahanan-- Gita tahu: selama ini PT DI terlalu bergantung pada pemasok tertentu. Eropa dan Amerika.
BACA JUGA:Harga Terbaru Agustus 2026 Honda PCX 160, Naik atau Turun Ini Kisaran Harga dan Daya Tariknya!
Gita juga tahu yang paling banyak membeli pesawat Casa adalah negara-negara di Amerika Latin: negara berbahasa Spanyol, tempat Casa diproduksi: Spanyol. Perawatan pesawat mereka terganggu. Tidak cukup lagi pasok suku cadangnya.
Gita melihat itu sebagai peluang besar bagi PT DI. Khususnya di bidang yang amat ia kuasai: pemeliharaan. PTDI sudah dikenal ahli N-235 yang berbasis Casa.
PT DI, pikirnya, bisa mendapat banyak bisnis pemeliharaan di Amerika Latin. Bukan sekadar pemeliharaan: juga menghidupkan banyak yang sudah mati. Termasuk turbinnya. Sampai pun ke recoatingblade-nya. Dan itu adalah keahlian Gita. Ia pernah sampai menjabat kepala direktorat pemeliharaan Mabes TNI AU: bertanggung jawab pada keandalan operasi pesawat-pesawat militer.
"Banyak Casa yang grounded di sana," ujar Gita.
BACA JUGA:Review Huawei Pura 90s 2026: Kamera Canggih, Performa Kencang, dan Fitur Premium!
Suatu saat Gita dipanggil Presiden Prabowo. Diberi order besar: bikin pesawat N219 sebanyak 80 pesawat. Gita bergegas mengkajinya. Terutama dari mana akan dapat pasok suku cadang. Ini berarti perlu modal kerja yang besar.
Pemasok di Eropa dan Amerika pasti tidak mau kirim suku cadang tanpa dibayar. Reputasi kemampuan bayar PT DI selama ini dikenal tidak terlalu baik.
Tapi mereka mulai tertarik kembali berhubungan dengan PT DI. Apalagi mereka tahu ada order resmi dari pemerintah Indonesia.
Gita tahu: tidak mungkin bisa menyelesaikan 80 pesawat dalam lima tahun. Ia pun beberapa kali menghadap Presiden Prabowo untuk mendiskusikan soal itu.
BACA JUGA:Yamaha GT80: Motor Trail Mungil, Ringkas dan Memikat Hati Pecinta Off-Road!
Kemampuan PT DI selama ini hanya membuat pesawat N235 satu pesawat tiap bulan. Antara lain karena terbatasnya modal kerja dan ketersediaan pasok suku cadang --ini juga soal modal kerja.
Maka Gita cari akal untuk mencari pemasok agar lebih banyak pilihan. Masih ada Kanada. Ada Tiongkok. Ada Brasil. Tergantung mana yang bisa memberi dukungan lebih baik bagi PT DI.
Tidak hanya itu. Gita juga mencari pemasok dalam negeri. Ia mendorong swasta nasional untuk bisa memasok N219 PT DI. Seperti halnya Vela, helikopter listrik buatan PT Vela Prima Nusantara, Bandung. Karbon kompositnya sudah bisa dipasok dari dalam negeri (Disway 22 Agustus 2026: Bintang Vela).
"Ternyata banyak yang bisa dipasok oleh perusahaan dalam negeri. Jangan semuanya impor," ujar Gita.