Isi Dompet

Sabtu 18 Jul 2026 - 14:42 WIB
Reporter : Dep
Editor : Almi

Mereka bilang saya bisa membeli rubel jauh lebih murah dibanding di tempat penukaran resmi.

"Ini untuk biaya perjuangan kami di Afghanistan," kata mereka setengah berbisik.

Saya pun serahkan dua lembar dolar Amerika @100. Mereka memberi saya rubel satu kantong plastik. Saya tidak hitung berapa nilainya. Yang penting mereka cepat keluar kamar.

Waktu itu sistem komunis di Uni Soviet dalam proses keruntuhannya. Saya sempat ke toko-toko di Moskow tapi tidak ada barang. Toko-toko nyaris kosong. Toko baju hanya memajang satu dua baju. Saya pun tidak beli apa-apa. Tidak ada yang bisa dibeli.

BACA JUGA:Walikota Pagaralam H. Ludi Oliansyah Pimpin Aksi Berbagi

Sebagai anggota rombongan presiden saya juga tidak bisa ke mana-mana. Jadwal amat padat. Sampai hari terakhir akan meninggalkan Uni Soviet, rubel itu utuh. Saya tinggalkan di kamar. Saya takut membawa pulang –menjaga kehormatan rombongan. Toh di Indonesia tidak laku. Rubel Soviet saat itu ibarat sampah.

Rubel yang sekarang adalah rubel Russia. Beda. Sudah bernilai tapi tidak laku di banyak negara.

Pukul 06.00 saya mendarat di Vladivostok: kali pertama. Pikiran pun mengarah ke petualangan baru: naik kereta Trans Siberia. Itulah jalur kereta api terpanjang di dunia.

Tidak. Tidak mungkin. Isi dompet saya terbatas sekali. 

Kategori :

Terkait

Kamis 23 Jul 2026 - 15:07 WIB

Sakit Jantung

Rabu 22 Jul 2026 - 16:21 WIB

Dua Menit

Selasa 21 Jul 2026 - 16:37 WIB

Burger Tempe

Senin 20 Jul 2026 - 18:13 WIB

Bumi Hangus

Minggu 19 Jul 2026 - 15:56 WIB

Paket Roaming