BACA JUGA:Apakah Masih Layak? Infinix Hot 40 Pro di Tahun 2026: Menakar Sisa Taji Sang Mantan Raja Budget!
"Sebagai orang yang merancang masjid itu apakah Anda tidak ikut mengawasi finishing-nya?," tanya saya pada Nyoman Nuarta, arsitek yang juga memenangkan desain Istana Garuda IKN.
"Parah," jawab Nyoman Nuarta. Rupanya ia juga sangat tidak.puas. "Saya tidak ikut mengawasi," tambahnya.
Sebenarnya ini salah saya: mengapa ke IKN sekarang. Tidak, misalnya, tiga tahun lagi, setelah perbaikan dilakukan.
Setelah salat duhur saya disapa lima anak muda bersorban rapi dan bersih. Mereka adalah imam dan khotib Masjid Negara. Ada yang dari Istiqlal Jakarta, ada juga yang dari Balikpapan dan Makassar. Mereka lolos seleksi yang dilakukan di Istiqlal.
BACA JUGA:Tangguh di Aspal hingga Jalan Rusak, Honda ADV 160 Masih Raja?
"Itu bangunan apa?" tanya saya saat melihat-lihat belakang masjid.
"Itu gereja Katolik," ujar seorang petugas masjid. Tidak ada yang istimewa. "Tapi kalau dilihat dari atas berbentuk salib," katanya.
Gereja ini juga baru sekali dipakai misa –dalam rangkaian Paskah kemarin.
Kelak akan dibangun juga gereja Protestan, vihara Buddha, klenteng Konghucu, dan pura Hindu. Semua di satu kawasan seluas 36 hektare ini.
Masjid Negara kelihatannya dikerjakan dengan cara ''kejar tayang''. Tapi salat di situ atau di masjid MBZ maupun di Masjid Al Jabbar sebenarnya sama saja: sama-sama jauh dari langit.