BACA JUGA:Apakah Poco F7 Layak Jadi HP Terbaik di Kelasnya Tahun Ini?
Tidak ada yang menang. Yang menang hanya para sengkuni.
Apalagi belum jelas pula siapa yang akan membayar tagihan perang 40 hari itu. Rakyat Amerika Serikat? Atau Presiden Donald Trump mengirim kuitansi biaya perang ke negara-negara Arab di Teluk Parsi?
Bisa jadi perang meletus lagi bila sudah jelas siapa yang membayar tagihannya.
Kemungkinan lain: gencatan senjata diperpanjang. Bisa tambah dua minggu lagi. Itu perlu. Berhubungan lawan jenis saja perlu jeda. Apalagi perang.
Selama jeda itu Amerika bisa mengumpulkan kuitansi-kuitansi pembelian senjata. Ditambah biaya operasional kapal perang dan pesawat tempur. Plus uang makan 20.000 personel selama 40 hari.
Lalu bikin surat tagihan ke negara-negara Arab. Disertai perhitungan bunga dan biaya tidak terduga. Termasuk uang duka cita meninggalnya banyak tentara Amerika.
Selama jeda yang sama Iran bisa memperbaiki senjata yang rusak. Atau mengerahkan alat berat membuka bunker yang pintu masuknya dihancurkan serangan Israel-Amerika.
Lalu Iran mengeluarkan senjata yang disimpan di dalamnya. Senjata itu mestinya tidak rusak. Tinggal memindahkan ke tempat lain.
Soal senjata ini sebuah media Amerika kemarin menyiarkan berita yang sangat menjengkelkan Menteri Pertahanan Pete Hegseth: The Wall Street Journal.
Koran itu mewawancarai intelijen Amerika secara rahasia. Tidak disebutkan siapa nama intelijen itu dan dari divisi apa. Intinya, kata si intelijen, Iran masih memiliki banyak sekali senjata.
Terutama rudal jarak menengah --bisa menyasar sampai ke Tel Aviv di Israel.
Hegseth jengkel dengan pemberitaan itu dengan alasan yang Anda sudah tahu: ia sudah beberapa kali menegaskan seluruh armada angkatan laut Iran musnah, industri senjatanya sudah punah, persediaan senjata Iran sudah habis, dan sistem komando Iran sudah tidak berfungsi.
BACA JUGA:Kenapa Honda Civic Ferio Jadi Incaran Anak Muda Lagi? Ternyata Ini Alasannya