Tak disangka yang terjadi justru kepanikan yang meluas.
Kita tentu tidak tahu seberapa seru saling menyalahkan di lingkungan pemerintah –kalau ada. Seberapa keras kata-kata yang terucapkan –kalau ada. Seberapa banyak benda yang melayang –kalau ada.
Yang jelas Jumat sore muncul pernyataan Mahendra Siregar, ketua Otoritas Jasa Keuangan: ia mengundurkan diri. Disusul oleh Iman Rachman, dirut PT BEI. Ditambah lagi dua pimpinan OJK lainnya.
Maka akhir pekan ini terlihat betapa kalut di elite negara ini. Awalnya saya mengira turunnya harga saham itu disikapi dengan tenang: begitulah perilaku pasar modal.
Lalu, dengan pikiran tenang, dicari jalan keluarnya. Tentu hasilnya tidak bisa instan tapi fondasinya sudah diperbaiki.
Dengan pengunduran diri masal itu persoalan kian rumit. Bisa hancur sampai fondasinya. Mengganti ketua OJK perlu prosedur yang panjang. Memakan waktu. Sampai lewat fit and proper test di DPR.
Lalu harus bagaimana mengatasi krisis saham di hari libur seperti ini secara cepat.
Jelaslah bahwa krisis harga saham muncul setelah lembaga pemeringkat asing, MSCI, mengeluarkan rapor merah untuk BEI. Lengkap dengan ancaman akan diturunkan kelasnya.
Betapa fakta itu kian menampar Presiden Prabowo: begitu sering Prabowo menghujat asing dan antek asing di pidato-pidato garangnya. Tiba-tiba ini ada asing yang terang-terangan menjatuhkan pasar modal Indonesia.
Maka Sabtu kemarin --dan Minggu hari ini-- bola panas mondar-mandir liar di Jakarta. Di saat perdagangan bursa libur dua hari serangkaian ''kebakaran'' terjadi di pasar modal Jakarta.
BACA JUGA:Dikira Awet Karena Diam di Garasi, Ternyata Komponen Mobil Ini Justru 'Sakit' Jika Jarang Dipakai!
Ini adalah Sabtu-Minggu yang sangat menentukan. Hasilnya: baru bisa kita lihat Senin pagi besok. Seperti apa pasar merespons langkah di dua hari libur ini.
Menunggu pembukaan perdagangan saham Senin besok adalah momentum yang lebih mendebarkan dari bagaimana menemukan pembunuh anak wali kota dalam film terlaris Agak Laen: Menyalak Pantiku!