Point 100

Selasa 20 Jan 2026 - 17:56 WIB
Reporter : Dep
Editor : Edi

Point 100

Oleh: Dahlan Iskan

KORANPAGARALAMPOS.COM - Mungkin Anda yang bisa menilai: ini penipuan atau tidak. Ini bisnis online. B2B. Pusatnya di Illinois, Amerika Serikat. Berarti di seputaran Chicago. Namanya: SPS Commerce.

Tentu ia yang saya maksud ini adalah anak muda. Tidak terlalu muda. Alumnus kimia. Sudah bekerja mapan di perusahaan besar. Istrinya alumnus Universitas Brawijaya, jurusan bahasa Inggris.

BACA JUGA:KPK Sita Duit Miliaran Rupiah

Maksud saya: ia cukup cerdas untuk menilai bisnis baru yang ia terjuni itu. Apalagi ia sudah berpengalaman menjalankan usaha. Waktu kuliah ia sambil dagang beras. Lalu dagang gula.

Ia juga sudah berpengalaman ”jatuh”. Dua kali. Yakni saat terjun ke bisnis kuliner: pecel dan rawon. Tidak sampai satu tahun tutup. Lalu kuliner lagi. Tutup lagi.

Sudah pula mencoba bisnis pertanian. Ia sewa sawah. Tidak sampai setengah hektare. Ditanami melon. Pengelolaannya diserahkan ke petani kenalanmya. Empat bulan kemudian si petani lapor: tanaman melonnya mati semua. Empat bulan, seandainya tidak mati, tentu sudah panen.

"Jangan-jangan sudah panen, uangnya hilang, lalu lapor tanamannya mati?" tanya saya.

BACA JUGA:120.833 Kendaraan Melintas di Jalan Tol Trans Sumatera Saat Long Weekend Isra Mi’raj

"Tidak tahu," jawabnya.

Namanya Moh Yusuf. Tinggal di Pasuruan, Jatim.

Setelah itu Yusuf membuat akun pribadi di medsos. Saya sendiri baru sekali ini dengar nama akun itu --maklum orang tua. Itulah akun untuk menjaring pertemanan.

Yusuf tertarik membuat akun di situ karena bisa dipercaya. Harus pakai nama asli. Identitas juga harus asli. Bahkan setiap melakukan kontak harus menyertakan Google map: bisa diketahui sedang di mana saat posting itu dilakukan.

Ada satu orang yang menyapanya: ”Hi”. Juga hanya dijawab ”hi” oleh Yusuf.

BACA JUGA:Pelajar Terbaik Pagar Alam Unjuk Dedikasi dalam Pemilihan Duta Lalu Lintas 2026

Akhirnya mereka berkenalan. Saling bertukar nomor WA. Dari komunikasi itu akhirnya saling tahu. Yusuf tahu dia kerja apa. Dia juga tahu Yusuf kerja di perusahaan apa.

Di tahap itulah akhirnya dia nyeletuk: "kerja saya tidak seberat kerja Anda. Lebih santai," katanyi. Yakni kerja buka toko online di SPS Commerce.

Menurut Yusuf tidak ada nada dia mengajak dirinya terjun ke bisnis itu. Justru Yusuf yang banyak bertanya: apa dan bagaimana bisnis itu.

Intinya: Yusuf bisa buka toko di SPS Commerce. Tinggal menawarkan jual apa. Yusuf pun konsultasi dengan si dia: baiknya jualan

BACA JUGA:SPNF SKB Kota Pagar Alam, Solusi Pendidikan Fleksibel dan Setara bagi Masyarakat apa.

Si dia menjawab: pengaruh Covid-19 masih terasa. Baiknya bisnis yang ada hubungannya dengan sanitasi dan kebugaran: masker, cairan sanitasi, tisu, vitamin, dan sebangsanya.

Yusuf pun menuruti saran itu: ia menawarkan 50 item di toko onlinenya.

"Toko baru biasanya di-support oleh sistem di SPS Commerce. Dicarikan pembeli," ujar si dia.

Tidak lama kemudian ada pesanan masuk. Dari Jerman. Nilainya USD1000. Yusuf ambil itu pesanan. Tapi ia harus menempatkan deposito di SPS Commerce senilai USD1000.

BACA JUGA:Jorge Lorenzo soal Juara Dunia MotoGP 2015: Marc Marquez Tidak Bantu Saya, Valentino Rossi yang Lambat

Barulah transaksi bisa terjadi. Setelah barang dikirim, kata petugas CS di situ, uang pembelian akan cair 15 hari kemudian.

Untuk itu Yusuf punya e-wallet --dompet elektronik di akunnya. Yakni untuk menerima uang dari pemesan barang. Betul saja tiga hari kemudian masuk ke e-wallet Yusuf uang USD1000. Tidak sampai 15 hari.

Yusuf cukup hati-hati. Ia coba cairkan sebagian uang di e-wallet-nya itu: USD100. Ia hubungi CS untuk mencairkannya. SC pun minta nomor rekening bank milik Yusuf. Uang USD100 pun cair.

Yusuf lega: ini akun bisa dipercaya.

BACA JUGA:Jorge Lorenzo soal Juara Dunia MotoGP 2015: Marc Marquez Tidak Bantu Saya, Valentino Rossi yang Lambat

Lalu masuk pesanan-pesanan lain. Nilainya USD2.000. Yusuf layani. Sampai akhirnya masuk pesanan senilai USD5.000. Kali ini Yusuf merasa tidak punya modal sebesar itu. Ia harus beli dari pemasok dengan sistem kontan.

Tapi Yusuf tidak bisa menolak pesanan itu. Tidak boleh. Ia akan kena penalti. Saran dari CS: minta agar nilai pesanannya diturunkan. Yusuf bisa kontak langsung dengan pemesan.

Lewat email. Sistem memang membolehlan kontak langsung seperti itu. Pesanan pun berhasil diturunkan.

BACA JUGA:Indonesia Masters 2026: Bersyukur Mentas di Istora Senayan, Zaki Ubadillah Ingin Berikan yang Terbaik

Ketika datang pesanan baru Yusuf panik: nilainya USD7.000. Pemesannya Ratna Dewi, orang Jakarta. Yusuf tidak mampu tapi tidak bisa menolak. Ia mencoba menghubungi Ratna Dewi.

Tidak direspons. CS juga sudah membantu menghubungi pemesan. Juga tidak ada respons.

Ketika saat pesanan jatuh tempo akhirnya Yusuf dianggap wanprestasi. Melanggar aturan. Dapat peringatan keras. Kejadian seperti itu berulang. Yusuf tidak mampu memenuhi pesanan. Juga tidak bisa kontak pemesan --untuk minta penurunan nilai order.

Akhirnya toko Yusuf ditutup. Ia sendiri sudah agak lama ingin menutup tokonya. Toh kelak bisa buka lagi, kapan saja.

Setelah toko ditutup Yusuf mengurus e-wallet-nya. Kan ada sejumlah uang di e-wallet --dari pembayaran-pembayaran sebelum itu. Nilainya USD20.000.

BACA JUGA:Indonesia Masters 2026: Bersyukur Mentas di Istora Senayan, Zaki Ubadillah Ingin Berikan yang Terbaik

Maka Yusuf menghubungi Customer Service (CS) SPS: ingin mencairkan uangnya.

Yusuf kecewa: ternyata ia tidak bisa mencairkannya. Hanya toko yang punya poin 100 yang bisa mencairkan uang di e-wallet. Poin Yusuf tinggal 93 --akibat dua kali tidak komit dengan pemesanan.

Masih ada jalan agar Yusuf bisa mencairkan uang USD20.000 di e-wallet. Yakni harus menambah poin menjadi 100 lagi. Caranya: membeli poin. Harga satu poin USD1.000. Berarti Yusuf harus mencari uang USD7.000. Sulit.

Yusuf menceritakan kesulitannya itu ke si dia. Dia mengatakan bisa membantu tapi hanya USD3.000. Bentuknya pinjaman. Itu pun dengan syarat Yusuf sudah memasukkan uang USD2.000 ke SPS Commerce.

Yusuf pontang panting mencari uang sekitar Rp 25 juta rupiah. Gagal.

BACA JUGA:Indonesia Masters 2026: Bersyukur Mentas di Istora Senayan, Zaki Ubadillah Ingin Berikan yang Terbaik

Dua minggu kemudian Yusuf bisa dapat pinjaman USD1500. Yusuf kembali kontak si dia. Akan dibantu. Yusuf pun menghubungi CS. Ternyata sudah tidak bisa lagi.

Ups... Masih bisa. Syaratnya: harga poin sudah naik. Menjadi USD2.000 per poin. Tentu Yusuf tidak mampu.

Dari sini Yusuf mulai curiga: jangan-jangan ini sindikat penipuan online. Yusuf pun curhat ke radio Surabaya Surabaya. Lalu ke Polda Jatim.

Awalnya Yusuf tidak memberitahukan semua kesulitan itu ke istrinya. Tapi tidak bisa lagi. Harapan uangnya cair tidak ada lagi. Maka ia beritahu sang istri. Sebagian uang hilang itu dipinjam dari tabungan sang istri --yang hanya karena rayuan Yusuf akhirnya diberikan.

BACA JUGA:Pempek Rumahan Agustina R Dewi Dhewii, Favorit Keluarga dengan Harga Bersahabat

Hubungannya dengan si dia juga tidak berlanjut. Si dia mengaku lagi sakit. Yusuf sudah mengirim email ke dia: tidak akan mengganggunyi lagi.

Yusuf tidak tahu apakah dia sakit beneran. Yusuf tidak bisa ke Malaysia untuk menengoknyi.

Kategori :

Terkait

Selasa 20 Jan 2026 - 17:56 WIB

Point 100

Senin 19 Jan 2026 - 17:22 WIB

Rambo Batman

Minggu 18 Jan 2026 - 17:36 WIB

Zakat Baznas Sumsel Terkumpul Rp. 5 Miliar

Minggu 18 Jan 2026 - 17:15 WIB

Omon Kenyataan

Minggu 18 Jan 2026 - 17:10 WIB

48 Warga Dapat Sanksi