Silalahi Ande-ande

Minggu 28 Dec 2025 - 18:24 WIB
Reporter : Almi
Editor : Almi

Ke Simalungun jauhnya bukan main. Harus menyusuri hampir separo tepian Danau Toba.  Saya menyusuri jalan berliku itu; melingkar-lingkar. Menuju Simalungun.

Kadang Toba terlihat di sisi kanan. Indah dan damai. Kadang berubah, Toba terlihat di sisi kiri. Indah dan damai. Kadang Toba seperti persis di pinggir jalan.

BACA JUGA:Jam Tangan Digital Cepat Mati, Penjual Ungkap Cara Pilih Baterai Berkualitas

Indah dan damai. Kadang Toba terlihat seperti nun jauh di bawah sana. Indah dan teduh.   Sebelum ke Simalungun –dan sebelum salat Jumat di Silalahi– kami ke monumen leluhur mereka.

Kami melewati pusat kampungnya: padat, miskin, dan tidak terawat. Masih terlihat rumah-rumah kuno yang asli Silalahi.

Tapi sudah berimpitan dengan bangunan-bangunan semi permanen yang ditempel-tempelkan ke rumah adat itu.

Monumen Silalahi itu sendiri seperti tugu Monas di Jakarta. Lebih kecil. Lebih pendek. Lebih sederhana. Di puncaknya bukan emas 36 kg, tapi sesuatu yang asing di imajinasi saya.

BACA JUGA:Mobil Listrik Sulit Cari Charger Umum, Pengguna Manfaatkan Pengisian di Rumah

"Itu melambangkan apa?" telunjuk saya menuding ke puncak monumen dan wajah saya menoleh ke Pak Camat di sebelah saya.  

"Itu perlambang bunga pisang," jawabnya. Oh...jantung pisang. ''Ontong'' dalam bahasa Jawa. Maknanya: pisang itu terus beranak-pinak sampai turun-temurun. Begitu pula marga Silalahi.  

Tapi Anda sudah tahu: ada dua pendapat soal siapa yang berhak menggunakan marga Silalahi. Di satu pihak hanya keturunan Silalahi Raja yang bisa bermarga Silalahi.

Silalahi Raja adalah anak pertama sang pemula. Di pihak lain seluruh keturunan Silalahi Sabungan, sang pemula, boleh menggunakannya.

BACA JUGA:Punya Mesin Kencang Yamaha Grand Filano Hybrid Connect Cocok Buat Kamu Angkut

Tapi mereka rukun. Sama-sama menghormati leluhur mereka: Silalahi Sabungan. Di bagian bawah monumen digambarkan –lewat relief– perjalanan leluhur marga Silalahi di situ.

Termasuk riwayat bagaimana sang Raja memilih istri.   Digambarkan: ada tujuh wanita muda dengan baju disingkap, seperti sedang menawarkan diri untuk bisa dikawini sang raja.

Tapi sang raja justru memilih wanita yang tidak memamerkan kemolekan tubuh.   Tentu, melihat itu, pikiran saya melayang ke lakon Ande-ande Lumut di teater rakyat di Jawa.

Kategori :