"Waktu kuliah dulu siapa yang menyuruh nabi Muhammad pilih prodi fisika murni?" tanya saya.
"Saya sendiri. Waktu SMP saya suka biologi. Waktu SMA sangat suka fisika. Lalu masuk fisika di USU," katanya.
"Semua nabi dan rasul kan punya kitab suci. Apakah sudah punya kitab suci?" tanya Al Makin. Guru besar UIN Yogyakarta ini baru pulang mengajar tiga bulan di Kyoto. Ia orang Bojonegoro. Warga NU. Pernah mondok di Tambak Beras, Jombang. SMA-nya di Madrasah Aliyah Negeri Jember.
BACA JUGA:Longsor di Gang Mawar, DPRD Pagaralam Pastikan Perbaikan Cepat
Nabi Muhammad Medan ini ternyata belum menerbitkan kitab suci. Kitab yang pernah diterbitkan mirip kumpulan hujah kenabiannya saja. Yang menyusun kitab itu Rakhmat Syawal. Sudah lama terbit. Saat Rakhmat masih mahasiswa di sebuah sekolah tinggi agama di Yogya. Kini Rakhmat baru selesai S-2 di UIN Medan, menunggu wisuda.
Buku itu berjudul Pemimpin Akhir Zaman Telah Datang. Subjudulnya: Imam Mahdi Telah Hadir di Hadapan Anda.
Buku itu tipis. Tidak sampai 100 halaman. Dua tahun lalu buku itu disempurnakan oleh Indra Syahputra, pengikut nabi Muhammad yang beriman lebih belakangan. Judulnya menjadi Selamat Datang Rasulullah.
Rakhmat sendiri dulunya anggota aliran LDII –Islam Jamaah. Ia tertarik masuk LDII karena intensifnya kajian hadis di situ. Lalu Rakhmat bertemu Al Jabir di masjid Ahmadiyah di Medan.
Di forum Ahmadiyah itu ia lihat ada seorang yang minta diberi waktu untuk pidato. Namanya Al Jabir. Pidatonya bagus. Tentang keharusan ada rasul di setiap kaum agar ada yang ditaati oleh umat.
BACA JUGA:Masa Depan Sudah Tiba Mobil Listrik Otonom Kini Bisa Jalan Sendiri
Sejak itu Rakhmat meninggalkan LDII. Ia menjadi pemeluk nabi Muhammad Medan. Sampai pun menjadi penulis bukunya. Lalu ikut mendeklarasikan kenabian sampai di Makkah. Ikut ditahan.
Rakhmat terus mencari ilmu. Ia kuliah di S-2 UIN Medan. Ia merasa, orang itu, kian berilmu kian jauh dari kenabian Muhammad Medan. Kini ia menjadi tidak percaya apa saja –kecuali ilmu pengetahuan. Bahkan ia bermaksud mendirikan kelompok manusia berpikir bebas di Medan: Minda Merdeka.
Dalam rangka itulah Al Makin mereka undang ke Medan.
Nama Al Makin dikenal luas di kalangan intelektual Medan. Ia pernah berbulan-bulan di Sumut. Ia melakukan penelitian mengenai nabi-nabi yang pernah ada di kalangan masyarakat Batak. Ternyata banyak juga nabi di Batak. Sebelum Batak menjadi Kristen.
Sisingamaraja, menurut Al Makin, adalah nabi. Demikian juga Parhu Dam Dam. Lalu yang lebih terkenal lagi: nabi Nasiak Bagi.
"Semua nabi di Batak memusuhi Belanda," ujar Al Makin. Memusuhi bule. Tentu bule Jerman yang menyebarkan Kristen di tanah Batak juga dianggap Belanda.