Tradisi Gunungan yang Ada di Jogja dan surakarta

Selasa 24 Jun 2025 - 21:01 WIB
Reporter : Dep
Editor : Almi

BACA JUGA:Resep Toast Khas Surakarta yang Lagi Viral, Cita Rasa Tradisional dengan Gaya Modern

Hal ini dilakukan sebagai upaya menyebarkan agama Islam, yang awalnya dikenal sebagai Sekaten.

Pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, Grebeg mulai dijadikan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas semua rezeki dan berkah yang diterima.

Grebeg juga dimaksudkan untuk memperkuat hubungan antara Sultan dengan rakyat.

Setiap tahunnya, Grebeg diselenggarakan tiga kali, yaitu Grebeg Syawal, Grebeg Maulud, dan Grebeg Besar.

BACA JUGA:Berikan Ruang Kembangkan Olahraga e-Sport

Ketiga jenis Grebeg ini memiliki makna dan tujuan yang berbeda-beda.

Grebeg Syawal

Grebeg Syawal diadakan di bulan Syawal, segera setelah Hari Raya Idul Fitri.

Perayaan ini merupakan ungkapan syukur atas selesainya bulan Ramadan dan datangnya hari kemenangan bagi umat Muslim.

Dalam Grebeg Syawal, Keraton Yogyakarta mengeluarkan gunungan yang berisi hasil pertanian sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan.

BACA JUGA:Rumbah, Salad Tradisional Khas Indramayu yang Unik! Ini Bahan dan Cara Membuatnya

Grebeg Maulud

Prosesi Grebeg Maulud adalah upacara tradisional yang sangat dinanti oleh masyarakat Yogyakarta setiap tahun pada hari lahir Nabi Muhammad.

Biasanya, Keraton Yogyakarta mengadakan Grebeg Maulud pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya.

Tradisi ini juga dikenal dengan Grebeg Sekaten, yang diadakan di bulan Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kategori :