Charles punya kemampuan mekanik bukan karena sekolah. Ia dapat ilmu dari ayahnya. Ayahnya dulu dapat dari kakeknya.
Semua anak petani, sejak kecil, sudah bergaul dengan bengkel. Pulang sekolah pun ke bengkel. Liburan ke bengkel.
"Apakah saat belajar dulu Anda pernah membuat mesin justru rusak?"
"Pernah. Sering".
BACA JUGA:Keunikan Cita Rasa Soto Ayam Kuning Berkuah Bening, Yang Enak Dan Segar!
"Ayah Anda tidak marah?"
"Tidak".
"Apa reaksi ayah Anda?"
"Saya harus bisa membetulkannya lagi. Betulkan sendiri. Sampai betul".
Setelah jadi ayah, giliran Charles mengajarkan itu pada Adams, anaknya. Sebenarnya bukan mengajarkan tapi mewariskan ilmu. Lihat. Coba. Salah. Lihat lagi. Coba lagi. Seterusnya. Sampai bisa.
BACA JUGA:Cobain Resep Tradisional Rendang Padang Asli, Bikin Nambah Nasi!
"Kami ini hanya panen setahun sekali. Harus hemat. Harus bisa lakukan sendiri semuanya," kata Charles.
Meski panennya hanya sekali setahun, hasilnya banyak. Produktivitas per hektarnya sampai 3,7 ton. Bandingkan dengan kedelai di Indonesia: satu hektare 0,6 ton.
Petani tidak pernah menggunakan hasil panen untuk benih. Setiap musim tanam mereka membeli benih. Perusahaan perbenihan pun hidup. Jadi bisnis tersendiri. Perusahaan benih itulah yang terus menemukan benih unggul.
Dari rumah Charles saya diajak ke rumah Nick. Di ''Desa Nick''. Di sebuah gerumbulan pohon di tengah sawah, sekitar 1 km dari ''Desa Charles''.
BACA JUGA: Lezatnya Bakso Bakar Rumahan Resep Sederhana, Rasa Juara Terbaru 2025!