Selama ini (sebelum Perang Tarif Trump), AS telah mengenakan tarif dasar 10 persen (pada semua negara). Termasuk Inggris. Pemerintah Inggris nampaknya akan mendengarkan keluhan para eksportirnya, dengan memangkas angka 25 persen tadi.
"Perang Tarif" adalah "instrumen tumpul", yang akan merugikan dan menghambat pertumbuhan. Bukan hanya Inggris, AS, Perancis, China, Indonesia. Semua akan menerima akibat buruknya.
BACA JUGA:Kuliner Hits Bandung, 7 Tempat Makan Favorit dari Tradisional hingga Modern
Keir Starmer yang memenangkan kursi PM Inggris dari Partai Buruh (2024) lalu, kini di persimpangan jalan. Hubungan dagang tradisional, dan historis AS-Inggris. Kini makin pragmatis.
Menunggang dua "kuda" (AS dan Uni Eropa) saja saat ini. Tidaklah cukup! Pragmatisme Inggris, dengan menunggangi satu "kuda" lagi (Tiongkok), sesuatu yang logis!
Tidak ada lagi "tabu" politik, demi kepentingan ekonomi.
Tujuannya, mengamankan kontraksi perekonomian Inggris, pasca "ulah Trump". Inggris yang keluar Uni Eropa (Brexit 2016), dan resmi menarik diri dari Uni Eropa (UE) tahun 2020. Kini menghadapi realisme.
Tak ada lagi "idealisasi", atau dramatisasi "kedekatan" eksklusif Inggris-AS. Setelah Trump lagi tak mendengarkan suara perkawanan Inggris (bidang perdagangan). *(Sabpri Piliang).