Telaga Wan An

Jumat 27 Oct 2023 - 20:29 WIB
Reporter : Thom Yorke
Editor : Edi

Waktu remaja saya sering ikut membuat bata. Di desa. Termasuk untuk mengganti dinding rumah kami yang dari bambu.

Saya bisa mengaduk lumpur, mencetaknya, menjemur bata setengah kering dengan teknik menumpuknya yang bersilang-silang, lalu menumpuk bata kering dengan cara khusus: agar ada lubang untuk kayu bakar.

Lalu menimbunnya dengan kayu. Harus cukup untuk membakar nonstop 2 x 24 jam. Sampai bata itu berwarna merah. Matang.

BACA JUGA:Jaga Silaturrahim, Tingkatkan Sinergitas Kian Erat

Bata sangat rakus kayu. Pepohonan habis. Itulah masa lalu.

Dalam perjalanan ini saya ditemani seorang wanita, insinyur sipil, rancang bangun, dan seorang lulusan teknik elektro. Saya bisa bertanya apa saja. 

''Apakah hilangnya arsitektur Tiongkok di pedesaan ini tidak akan mengubah budaya Tiongkok?'' tanya saya.

''Kami harus berubah. Tidak mungkin lagi mempertahankan bentuk bangunan lama di pedesaan. Mahal. Rumit. Membangunnya lama,'' kata yang teknik sipil.

BACA JUGA:Mendagri Tito Karnavian Buka Rakornas Dukcapil 2023 di Sumsel

Saya tahu Tiongkok berubah cepat. Tapi menyusuri pedesaan kali ini saya tetap berdecak: pemerataan kemakmuran tidak hanya ada di kampanye. 

Keinginan berubah juga merata.

Kategori :

Terkait

Kamis 20 Aug 2026 - 17:26 WIB

Tiga Inklusif

Rabu 19 Aug 2026 - 17:00 WIB

Prabowo Mahathir

Selasa 18 Aug 2026 - 16:28 WIB

Dominasi Suasana

Senin 17 Aug 2026 - 18:57 WIB

Datuk Merdeka

Minggu 16 Aug 2026 - 16:38 WIB

Dear Cinta