Sebenar KDRT

Sebenar KDRT--

KORANPAGARALAMPOS.COM - "Bah..." katanyi manja. "Bah..." katanyi lagi. Dia memang biasa memanggil mertua laki-lakinyi dengan panggilan ''Bah'' –singkatan bahasa Arab ''Abah'', ayah.

"Saya jadi korban KDRT," lanjut Ivo, sang menantu, sambil ucek-ucek mata.

Awalnya, sang mertua kaget. Anak Pak Iskan itu tidak pernah mendengar suami Ivo berbuat kasar kepada sang istri.

Setelah manjanyi reda sang mertua baru tahu: KDRT itu benar-benar terjadi. Dilakukannya di jalan raya. Sepanjang 1.500 km.

BACA JUGA:Menyerap Jutaan Tenaga Kerja

"Semua ini gara-gara anak Abah," katanyi lagi.

Sang suami, baru genap satu bulan menjalani operasi lutut –gara-gara di masa nan lalu. Saat main bola. Ia pemain penyerang klub sepak bola Askring: asal keringetan, asal berkeringat.

Meski belum lama operasi lutut, cucu Pak Iskan itu sudah mau ikut gowes sejauh 600 km. Ia merasa sudah kuat.

Sejak tiga minggu setelah operasi ia sudah latihan naik sepeda. Setiap hari. Awalnya 20 km. Akhirnya bisa 200 km. Lalu ia ingin ikut yang 600 km.

BACA JUGA:Sekda Soroti Rendahnya Koordinasi OPD dalam Gerakan Lingkungan Bersih

Itu ringan baginya. Menurut perasaannya. Ia pernah naik sepeda ribuan kilo. Beberapa kali. Di dalam negeri. Di luar negeri. Di Asia. Di Eropa. Di Amerika. Di Rinca, NTT.

Ivo, sang istri keberatan. Dia beropini: belum waktunya ikut bersepeda 600 km. Takut over used. Harus sabar menanti.

Sang suami ngotot. Mereka berdebat keras. Tidak ada titik temu. Akhirnya sang istri mengalah –tumben ada istri bisa mengalah.

Katanyi: "Saya akan ikut yang 1.500 km asal kamu tidak ikut yang 600 km itu," ujar Ivo. Maksudnyi: istri akan mewakili penderitaan suami.

BACA JUGA:Susun Langkah Strategis, Perkuat Struktur Organisasi

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan