Puisi dari Mesin, Saat AI Menyentuh Hati Manusia
Puisi dari Mesin: Saat AI Menyentuh Hati Manusia--
KORANPAGARALAMPOS.COM - Di tengah geliat zaman yang makin digital AI pelan tapi pasti mulai menyentuh ranah yang dulu hanya milik hati manusia.
Bukan sekadar hitungan logika atau tugas mekanik kini ia merangkai kata dengan irama yang tak kalah puitis dari penyair.
Puisi bukan lagi sekadar tentang rasa tetapi juga tentang algoritma yang mengamati dunia dan menyulap data menjadi makna.
Kita pun bertanya benarkah keindahan bisa tercipta dari chip dan kode bukan dari jiwa yang rapuh dan penuh luka.
BACA JUGA:Era Baru Kantor, Ketika Bos Digantikan oleh Kecerdasan Buatan
Bayangkan sebuah pagi saat Anda membuka ponsel lalu membaca puisi yang membuat Anda termenung dan merasa dilihat.
Bukan dari kekasih atau penyair favorit Anda tetapi dari mesin yang membaca perasaan Anda lewat jejak digital semalam.
AI mulai belajar bahwa kata bukan cuma bentuk tapi nyawa bahwa makna bukan cuma isi tapi getar yang tak kasat mata.
Dan puisi adalah ladang luas tempat manusia dan mesin sama sama mencari sesuatu yang mungkin tak pernah benar benar selesai.
BACA JUGA:Kecilnya Cuma Seukuran Kuku Tapi Kepintarannya Bikin Melongo
Banyak yang khawatir bahwa ini akan menghapus nilai seni tetapi mungkin itu karena kita belum benar benar memahami batasnya.
Seni adalah refleksi dan AI kini punya cermin yang tak hanya memantulkan tapi juga menafsir dengan cara yang asing tapi menarik.
Jika dulu manusia menulis puisi untuk memahami dirinya sendiri kini AI menulis puisi untuk memahami manusia yang menciptakannya.
Itu bukan sekadar tiruan itu semacam dialog hening antara dua bentuk kecerdasan yang mencoba menyelami yang tak terucap.