QRIS Pungky
Disway--Pagaralam Pos
Akibat Covid-19? Antara iya dan tidak. Pungky meninggal setelah Covid agak berlalu. Tapi ketika terkena Covid sebelum itu D-dimer-nya naik. Terbentuk gumpalan-gumpalan dalam darahnya.
BACA JUGA:LAYANI: Lurah Atung Bungsu, Kecamatan Dempo Selatan Wawan Periansyah saat melayani masyarakat.
Saya sendiri, kala itu, sama: D-dimer saya naik sampai 6000 –padahal level maksimalnya 500.
Pungky punya komorbid yang terlihat oleh siapa pun: berat badannya hampir 110 kg. Itu pun sudah turun dari sebelumnya: 120 kg.
"Kami memang keluarga kelas berat," ujar Adi Sulistyo, adik Pungky. "Ayah, kakak-kakak dan saya sendiri kelebihan berat badan," tambah Adi.
Saya telepon Adi dini hari kemarin pagi. Tidak diangkat. Ternyata ia yang balik telepon saya. "Maafkan tadi saya masih salat subuh," katanya.
Adi juga bergerak di keuangan. Ia menjadi salah satu eksekutif di bank asing di Jakarta. "Kami sering diskusi soal keuangan," ujar Adi. "Sebagai regulator Mas Pungky sering bertanya praktik yang terjadi di sektor riil ke saya," ujarnya.
BACA JUGA:KKN di Bumi Agung, Mahasiswa UNSRI Berikan Kamajuan
Kakak beradik ini sangat bersaudara. Sering telponan dan saling mengajak bertemu. Sehari sebelum meninggal pun Pungky masih mengajaknya olahraga bersama: jalan pagi. Sambil diskusi. Pun di pagi sebelum meninggal. Ia masih mengajak Adi untuk mencapai 10.000 langkah.
Setelah itu Pungky siap-siap bekerja: masih WFH. Sehari penuh ia di depan komputer. Juga online dan by phone. Pungky, kata Adi, orangnya berjiwa keras. Semua pekerjaan harus beres.
Pukul 4 sore, Pungky mengikuti perkembangan keadaan di layar TV. Di sofa di rumahnya itu ia terkulai. Sendirian. Meninggal dunia: 5 Januari 2021.
Kalau Anda bertanya pada orang-orang Bank Indonesia siapa Pungky, jawabnya akan seragam: pejuang QRIS.
BACA JUGA:LAPAS : Pemeriksaan dan pengambilan sampel urine yang dilakukan di Lapas Kelas III Pagar Alam
Tahun 2021 adalah tahun duka bagi keluarga Pungky. Enam bulan setelah itu ayahnya meninggal dunia. Satu minggu kemudian kakak Pungky juga meninggal dunia. Lalu ibunya. Empat orang meninggal dalam satu keluarga di tahun yang sama.
Kini Adi tinggal dua bersaudara. Istri Pungky sendiri seorang konsultan, hidup sehat bersama dua putrinyi: dua-duanyi alumnus Universitas Indonesia. Yang sulung jadi dokter (calon spesialis), yang bungsu sarjana hukum. "Beberapa hari sebelum meninggal Mas Pungky seperti menitipkan dua putrinyi itu untuk ditinggal pergi," ujar Adi.