Mengulik Jejak Sejarah Museum Kereta Api Ambarawa

Jumat 22 Mar 2024 - 18:32 WIB
Reporter : dwi
Editor : dwi

Pembangunan tersebut merupakan syarat yang harus dipenuhi NISM guna mendapatkan izin konsensi pembangunan jalur kereta api pertama Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta). 

BACA JUGA:Mengenal 7 Tradisi Budaya Suku Besemah

BACA JUGA:Sistem Kasta! 7 Kebudayaan Terkenal di India

NISM diwajibkan membangun jalur kereta api cabang lintas Kedungjati-Ambarawa sepanjang 37 km guna keperluan militer.

Lalu, sebagai tempat pemberhentian akhir dibangun Stasiun Willem I (Stasiun Ambarawa). 

Kuat dugaan, penamaan Willem I mengacu kepada Benteng Willem I yang berada tidak jauh dari stasiun. 

Pada 1 Februari 1905 dilanjutkan pembangunan jalur kereta api ke Secang-Magelang yang terdapat jalur kereta khusus, rel bergerigi.

BACA JUGA:Pantangan Menikah Dengan Satu Marga! Mengulik 7 Fakta Kebudayaan Suku Batak

BACA JUGA:Ritual Pengorbanan Manusia Yang sangat Brutal! Ini 7 Fakta Mengerikan Suku Maya

Dua tahun berselang, bangunan Stasiun Ambarawa direnovasi dengan mengganti material yang semula berupa kayu dan bambu menjadi batu bata.

Pada awal pengoperasiannya, Stasiun Willem I digunakan sebagai sarana pengangkutan komoditas ekspor dan transportasi  militer di sekitar Jawa Tengah.

Setelah di non aktifkan tahun 1976, Stasiun Ambarawa dicanangkan sebagai Museum Kereta Api oleh Gubernur Jawa Tengah pada saat itu, Supardjo Rustam. 

Rencana ini bertujuan menyelamatkan tinggalan lokomotif uap serta sebagai salah satu daya tarik wisata di Jawa Tengah. 

BACA JUGA:Menggali Sejarah Suku Maya yang Hilang

BACA JUGA:Jejak Sejarah Peradaban Masyarakat Kuno di India

Stasiun Ambarawa dipilih karena Ambarawa memiliki latar belakang historis yang kuat dalam perjuangan kemerdekaan yakni Pertempuran Ambarawa, selain itu Stasiun Ambarawa pada saat itu masih menyimpan teknologi kuno yang masih bisa dioperasikan. 

Kategori :