Hakka Ngiau

Kamis 27 Aug 2026 - 16:58 WIB
Reporter : Dep
Editor : Almi

Bentuk museum ini dibuat sangat mirip dengan itu. Tiap kamarnya, di tiga lantai, difungsikan sebagai museum. Halamannya difungsikan untuk ruangan besar melingkar. Bisa untuk 1000 orang. Di situlah seminar kebangsaan kemarin berlangsung. Bedanya, di museum ini ''halaman'' tengahnya beratap. Sedang di rumah besar yang asli atapnya langit dan kadang mendung.

Kini, di daerah asal suku Hakka di Tiongkok tidak ada lagi orang yang tinggal di rumah besar seperti itu. Beberapa rumah besar peninggalan masa lalu masih ada. Sudah sangat tua. Dijadikan objek wisata.

Saya pernah mengunjungi rumah besar yang masih asli di sana: di kabupaten Mexian, bagian utara provinsi Guangdong. Sudah terlihat kusam kuno. Ketika naik tangga ke lantai atas muncul rasa khawatir: tangga kayunya seperti lapuk.

Setiap kali ke Meixian saya tidur di Meizhou, kota terbesarnya. Di kunjungan ketiga tahun lalu Meizhou sudah berubah total: menjadi sangat 靚女 –ciang ngi, cantik dalam bahasa Hakka.

BACA JUGA:Qooder: Skuter Roda Empat yang Desainnya Bikin Keder, Performa Bikin Kagum!

Piao liang dalam bahasa Mandarin. Di kunjungan ketiga itu saya juga ke Sunkou –pelabuhan sungai yang hampir semua orang Hakka perantauan mengenangnya. Dari tepi sungai itulah orang-orang Hakka berangkat meninggalkan kampung halaman menuju Nan Yang –laut selatan. Itu bisa berarti, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, atau Indonesia.

Di daerah baru itu mereka menyatu dan jadi tokoh setempat: Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew adalah orang Hakka. Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra juga orang Hakka. Pun Presiden Filipina Corazon Aquino.

Siapa tahu kelak Ahok, orang Hakka dari Belitung juga akan jadi seperti Lee Kuan Yew untuk Indonesia.

Itu tidak mustahil –kalau Tuhan sudah menakdirkan begitu. Anda sudah tahu: untuk pilpres akan datang tidak perlu lagi batas minimal perolehan suara partai.

BACA JUGA:Pemkot Pagar Alam Ikuti Rapat Pengendalian Inflasi dan Evaluasi Program 3 Juta Rumah

PDI-Perjuangan bisa mengajukan calon sendiri. Partai itu tidak punya banyak pilihan. Ahok bisa dimajukan. Kalau perlu dipasangkan dengan Mahfud MD. Atau sebaliknya. Mereka bisa terpilih. Orang sudah muak dengan korupsi. Ahok-Mahfud bisa jadi pilihan. Atau tidak.

"Itu tidak mungkin," ujar Ahok ketika kemungkinan itu saya bisikkan ke telinga kirinya. Alasannya: ia pernah dituntut hukuman lima tahun sehingga hak pencapresannya hilang.

Aneh. Ternyata yang jadi ukuran ''tuntutan'' jaksa saat di pengadilan. Bukan vonis hakim. Bagaimana UU-nya bisa begitu hanya Anda yang tahu.

Hebatnya, untuk pilkada, aturan itu sudah tidak berlaku. Yakni sejak ada yang menggugat UU itu ke Mahkamah Konstitusi. Dikabulkan. Berarti bagi orang yang ingin mencapreskan Ahok cepat-cepatlah ajukan gugatan ke MK.

BACA JUGA:Qooder: Skuter Roda Empat yang Desainnya Bikin Keder, Performa Bikin Kagum!

Di forum itu saya hanya menyinggung sedikit peristiwa di seputar proklamasi kemerdekaan. "Hampir saja presiden pertama kita bukan Bung Karno. Siapa?" pancing saya. Ternyata tidak ada yang tahu.

Kategori :

Terkait

Sabtu 29 Aug 2026 - 16:40 WIB

Rampas Aset

Jumat 28 Aug 2026 - 16:14 WIB

La Hua

Kamis 27 Aug 2026 - 16:58 WIB

Hakka Ngiau

Rabu 26 Aug 2026 - 15:20 WIB

Life Begins

Selasa 25 Aug 2026 - 16:37 WIB

Networking Rebahan