Kenapa lahir buta? "Ketika kandungan berumur enam bulan sudah harus dilahirkan. Ada masalah di kandungan istri," ujar sang ayah.
BACA JUGA: Jaga Budaya, Perkuat Persaudaraan
"Kami sudah diberi tahu anak kembar kami akan dilahirkan dalam keadaan buta. Di umur kandungan segitu kornea mata janin belum benar-benar jadi," ujar sang ayah.
Memang ada pilihan lain: digugurkan. Tapi ia tidak mau. Bayi itu sudah hidup. Memang masih di kandungan tapi sudah hidup. Tidak boleh digugurkan. "Kami beragama Katolik," katanya.
Tentu awalnya sangat bersedih. Begitu tinggi keinginan punya anak. Begitu dikabulkan dua-duanya lahir buta. "Akhirnya kami menerima apa yang Tuhan berikan," katanya.
Dokter Aucky adalah alumnus SMA St Louis yang kemudian kuliah kedokteran di Universitas Airlangga. Ia mendalami bayi tabung di Belgia. Di sanalah kali pertama Aucky mempraktikkan bayi tabung. "Yang pertama gagal. Yang kedua gagal. Yang ketiga juga gagal. Baru yang keempat berhasil," katanya.
BACA JUGA:Komitmen Sempurnakan Arah Pembangunan 2027
Aucky punya dua anak: perempuan dan laki-laki. Yang perempuan menjadi dokter ahli kandungan di Amerika. Dia lulusan McGill, Montreal, Kanada. Sedang yang laki-laki menjadi ahli laboratorium bayi tabung dan ikut terjun di Ferina –Fertilitas Indonesia.
''Anak-anak mahal'' itu tentu tidak terasa mahal lagi kalau kelak hidup mereka sukses –punya penghasilan jauh lebih tinggi dari orang tua mereka. Mahal dan murah kadang bisa menjadi murah dan mahal.