Sakit Jantung

Kamis 23 Jul 2026 - 15:07 WIB
Reporter : Dep
Editor : Almi

Rasanya Anda memang tidak cocok menjadi birokrat –apalagi menjadi orang nomor satu di lembaga setingkat menteri. Pekerjaan paling cocok untuk Anda, ya, jadi wartawan seperti dulu.

Tapi profesi wartawan pun sekarang sudah berubah. Maka, sebagai ganti, Anda sebaiknya jadi oposisi –seperti yang Anda lakukan di era Presiden Jokowi menjelang periode kedua.

BACA JUGA:Wujudkan Pengadaan Akuntabel dan Presisi

Waktu itu Anda begitu enteng berubah sikap: dari pendukung all out Jokowi menjadi anti-Jokowi.

Tapi saya juga tahu Anda sangat cocok dengan Prabowo: tidak mungkin jadi oposisi. Terutama Anda satu pemikiran dalam program ''memihak rakyat'' –meski hati Anda berontak kok pelaksanaannya banyak terjadi penyelewengan. Itu membuat Anda ingin jadi oposisi tapi sulit bersikap oposisi kepada Prabowo.

Akhirnya saya anjurkan saja di sini: begitu dokter di luar negeri juga memutuskan Anda harus operasi: pulanglah. Jalani operasi itu di RS Pertamina yang Anda jadi komisaris di induk perusahaan itu. Nyawa itu hanya titipan. Bisa diambil yang titip kapan saja dan di mana pun.

Beda dengan saya: saya berobat ke RS Madinah karena jatuh sakitnya saat umrah bersama keluarga. Lalu saya batal umrah untuk berobat di Surabaya. Begitu mendarat dari Madinah saya langsung ke RS National Hospital. Tiga hari opname di situ: tidak ditemukan sakit apa.

BACA JUGA:Dongkrak Nilai Jual, Buka Peluang Pasar Digital

Setelah ke Singapura baru ditemukan: aorta dissection. Pembulah darah utama saya pecah. Sepanjang setengah meter. Untung tidak meninggal dalam penerbangan Madinah-Surabaya. Atau dalam penerbangan Surabaya-Singapura.

Itu sekaligus menunjukkan ''wajah lain'' dokter Indonesia: tidak mau buru-buru minta pasien di CT Scan. Kasihan pasien. Sekali CT Scan bisa habis Rp 7,5 juta. Dokter Indonesia terlalu memikirkan keuangan pasiennya. Padahal kalau langsung di-CT Scan akan ketahuan saat itu juga: aorta dissection.

Singapura menemukan penyakit saya bukan karena dokternya lebih ahli. Tapi karena dokternya memutuskan langsung CT Scan. Tidak perlu memikirkan mahal atau tidak. Tidak pakai prosedur bertahap –kalau tidak ditemukan baru diminta CT Scan.

Ketika berobat ke luar negeri pasien Indonesia tidak akan keberatan ditagih berapa pun. Paling hanya ngomel di dalam hati. Hasilnya: banyak pasien merasa berobat di luar negeri lebih hebat: cepat ketahuan penyakitnya dan cepat ditangani.

BACA JUGA:Daftar HP Infinix RAM 8 GB Terbaik Juli 2026: Performa Ngebut untuk Gaming dan Multitasking Tanpa Lag

Akhirnya muncul citra tingkat keberhasilan berobat di luar negeri tinggi. Padahal itu terkait langsung dengan ''keberanian'' dokter melakukan tindakan ''mahal'' di awal pemeriksaan. Bukan karena lebih pintar.

Mungkin dokter Indonesia sudah waktunya berubah: lebih berani melakukan pemeriksaan awal dengan alat yang lebih canggih (baca: mahal). Dari pada seperti selama ini: pemeriksaan dilakukan secara bertahap dimulai dari sangat awal, pakai stetoskop. Dicoba diberi obat. Kalau tidak sembuh baru disuruh ke lab. Periksa darah. Kalau tidak berhasil juga baru CT Scan.

Akibatnya nama dokter di Indonesia dianggap kurang bermutu dibanding di luar negeri.

Kategori :

Terkait

Jumat 24 Jul 2026 - 17:11 WIB

Anak Telur

Kamis 23 Jul 2026 - 17:52 WIB

Memelihara Qalbu Agar Tetap Tenang

Kamis 23 Jul 2026 - 15:07 WIB

Sakit Jantung

Rabu 22 Jul 2026 - 16:21 WIB

Dua Menit

Selasa 21 Jul 2026 - 16:37 WIB

Burger Tempe