Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa usaha adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia. Kita tidak boleh hanya berpangku tangan, menunggu keajaiban datang tanpa adanya kerja keras.
Namun, ikhtiar saja tidak cukup. Kita juga diperintahkan untuk berdoa sebab keberhasilan sejatinya datang dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW pun pernah mengatakan bahwa doa adalah senjata orang mukmin.
BACA JUGA:Coffee Morning Pemkot Pagar Alam dan BPS, Perkuat Sinergi Data untuk Pembangunan
Berdoalah dengan penuh keyakinan. Jangan ragu bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.
Bahkan ketika doa belum dikabulkan, ketahuilah bahwa Allah sedang mempersiapkan yang terbaik, atau menundanya untuk waktu yang lebih baik, atau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
Setelah berusaha sekuat tenaga dan berdoa, maka tibalah saatnya bagi kita untuk menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Inilah yang disebut dengan tawakal.
Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan berserah diri setelah ikhtiar dilakukan dengan maksimal.
BACA JUGA:Tekankan Pengawasan Ketat Program MBG
Terkadang, setelah segala usaha kita kerahkan, hasilnya tidak seperti yang kita harapkan.
Di sinilah tawakal mengajarkan kita arti rida, sabar, dan yakin bahwa Allah lebih tahu mana yang terbaik. Bisa jadi yang kita inginkan bukan yang terbaik menurut-Nya.
Seorang muslim yang baik adalah mereka yang gigih dalam ikhtiar, rajin dalam berdoa, dan kuat dalam tawakal.
Usaha tanpa doa dan tawakal akan membuat kita sombong, sementara berdoa dan tawakal saja tanpa usaha justru menjadikan kita malas. Jadi, mari kita jadikan tiga hal ini sebagai prinsip dalam hidup kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.