Mereka melakukan perbandingan antara harga yang mereka lihat dan harga yang mereka miliki di benak mereka.
Selain itu, harga dapat disesuaikan dengan kualitas jasa yang diberikan oleh perusahaan.
BACA JUGA: Duel Panas! Joey Pelupessy vs Ragnar Oratmangoen Berpotensi Tersaji di Final Liga Belgia
Jika perusahaan memiliki dan percaya bahwa jasa yang diberikannya sangat baik, maka harganya disebut harga pencitraan. Selanjutnya adalah penentuan harga berdasarkan harga ganjil psikologis.
Ini menggunakan angka yang berakhir dengan angka ganjil, seper harga Rp. 39.999.
Ini memberi kesan kepada pelanggan bahwa harganya adalah Rp. 30.000, meskipun harga sebenarnya adalah Rp. 40.000. Akibatnya, harga tampak lebih murah dari yang sebenarnya.
Lalu bagaimana dengan harga dan kualitas yang saling berbanding lurus?
Sebuah perusahaan berani mengeluarkan produk dengan harga yang cukup tinggi demi memberikan kualitas yang terbaik untuk konsumen.
BACA JUGA:Best Payment Cards for Managing Credits and Home Sales
Pemilihan harga tinggi bagi konsumen sebenarnya ingin memperlihatkan bahwa kualitas produk tersebut memang sangat baik. Perusahaan memang memilih target pasar yang sesuai dengan produknya.
Perlu diingat bahwa penentuan harga juga ditentukan dari STP (Segmenta on Targe ng Positioning).
Pada saat pemilihan segmen yang ingin dimasuki sesuai dengan produk yang akan dibuat.
Kemudian memilih target yang ingin dituju, kualitas yang baik biasanya akan memilih harga yang tinggi untuk memperlihatkan pres tige. Posisioning juga menempatkan produk yang eksklusif kepada benak konsumen.
Hal ini mengindikasikan bahwa pemilihan harga yang tinggi menjadi lebih tepat karena memang dipilih target yang memiliki daya beli yang yinggi pula.
BACA JUGA:Resmi: Dibanderol Rp974,9 Juta Honda Prelude, Ini Spesifikasinya!
Oleh karena itu penetapan harga tinggi sangat tepat diterapkan dalam kasus seperti ini. Ada lima langkah dalam proses penetapan harga: