"Apakah Anda pernah tahu gerbang yang khas Singapura itu?"
"Tidak pernah tahu. Tidak pernah mendengar," jawabnya.
"Bisakah dicarikan tahu di mana lokasi gerbang itu sekarang?"
Ia sibuk bertanya ke AI. Lalu datanglah jawabnya: di lokasi itu sekarang sudah berdiri gedung megah menjulang tinggi. Orang Suzhou menyebutnya "Gedung Celana Panjang".
BACA JUGA:Ngerusak Harga Pasar! itel RS4 Bawa Spek 'Dewa' dengan Harga Sejutaan, Brand Lain Ketar-ketir?
Lalu ditunjukkanlah kepada saya foto gedung itu. Sudah menjadi ikon baru Suzhou. Sudah tidak ada bau Singapura sedikit pun.
Saya lantas minta diantar ke si Celana Panjang itu. "Dekat. Hanya lima menit," katanya.
Kami pun ke sana. Melewati pinggir danau yang dipercantik. Dari jauh pun segera terlihat Gedung Celana Panjang itu. Betul. Mirip sekali bentuk celana panjang.
Tapi celana panjangnya orang yang pakai egrang. Kakinya terlalu panjang untuk pantat tepos seperti pantat saya.
BACA JUGA:Ngerusak Harga Pasar! itel RS4 Bawa Spek 'Dewa' dengan Harga Sejutaan, Brand Lain Ketar-ketir?
Begitu sampai di bawahnya terasalah betapa tinggi dan besar gedung itu. Di bagian bawah selangkangan gedung itu adalah plasa. Plasa luas. ''Selangkangan'' itu ternyata sekaligus difungsikan sebagai gerbang ke mal di belakangnya.
Banyak sekali pengunjung plasa ini. Kami turun ke lantai bawah melalui eskalator. Di situ ada stasiun kereta bawah tanah. Setelah menyusuri lobi stasiun itu kami naik ke plasa yang di pinggir danau. Lalu kembali menatap ke atas. Ke puncak gedung Celana Panjang.
Saya pun mengamati sekitar plasa. Siapa tahu ada bekas-bekas gerbang Singapura II. Tidak ada. Yang ada sebaris patung singa kecil-kecil di pinggir pagar. Saya pun pura-pura bertanya ke dalam diri sendiri: sudah begitu kecilnyakah Singapura di mata kota Suzhou sekarang.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Laptop Kantoran, Ini Alasan ASUS Vivobook 14 Jadi Favorit Mahasiswa di 2026!
Saya tidak punya waktu memikirkan jawabnya. Harus kembali ke hotel. Acara berikutnya sudah menanti.
Ternyata proyek Singapura II itu dianggap gagal –oleh kedua belah pihak. Tiongkok kecewa karena Singapura menjual lahan kawasan industri itu terlalu mahal. Itu dianggap tidak bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Suzhou.