Guinness Patrick

Minggu 08 Feb 2026 - 17:37 WIB
Reporter : Dep
Editor : Almi

Bertinju 24 jam tidak seperti bernyanyi 24 jam. Perlu ketahanan fisik yang lebih-lebih.

"Sepuluh menit terakhir semua badan saya seperti kram," ujar Patrick Minggu sore lalu. Hari itu saya berjanji bertemu Linda, tokoh wanita yang juga bangga menyebut diri Putri Fakfak. Patrick dan istri ternyata ikut datang bersama Linda.

BACA JUGA:Chery Himla Siap Hadapi Toyota Hilux & Ford Ranger di Indonesia, Pikap Gahar Harga Kompetitif

Sepuluh menit terakhir itu, kata Patrick, praktis hanya satu tangan yang masih bisa terus meninju pertahanan pelatih. Tangan kirinya sudah total kram.

Pun kaki Patrick. Sudah tidak bisa digerakkan. Dua-duanya Sudah kram. Sudah seperti tinggal terpaku di lantai ring.

Kejujuran pertandingan itu dikontrol oleh dua kamera yang posisinya berlawanan. Termasuk merekam gerak digital perubahan waktu: apakah benar setiap ronde (tiga menit) Patrick melancarkan pukulan minimal 15 kali.

Apakah benar satu rondenya berlangsung utuh tiga menit. Apakah benar istirahat di sela-sela ronde itu tidak lebih satu menit.

BACA JUGA:Yamaha Zuma 125 2026, Skuter Tangguh Buat Perkotaan & Petualangan Ringan, Irit BBM & Stylish

Pelaksanaannya persis seperti di pertandingan tinju sebenarnya. Ada lonceng yang dibunyikan wasit di akhir ronde. Lalu ada lonceng lagi untuk memulai ronde berikutnya.

Ada kursi di pojok ring agar petinju duduk di situ sebelum memulai ronde yang baru.

Satu pertandingan Patrick terdiri dari 12 ronde. Lalu istirahat 30 menit. Lalu bertanding lagi, 12 ronde. Begitu seterusnya. Sampai 24 jam. Asupan nutrisi dilakukan di saat istirahat 30 menit itu.

Selain diawasi dua kamera pertandingan itu juga disiarkan langsung: live streaming. Itu bukan live streaming biasa. Itu sekaligus donasi. Penonton bisa nyawer 24 jam di situ.

Hasil saweran sepenuhnya untuk yayasan kanker anak-anak.

BACA JUGA:Maling Bakal Gigit Jari! Honda BeAT Deluxe Smart Key 2026 Rilis dengan Alarm Anti-Maling Tercanggih

Ada satu rumah singgah untuk penderita kanker di Tangerang. Anak-anak desa yang sedang menjalani kemo bisa tinggal di situ –agar tidak wira-wiri ke desa mereka.

Rp 200 juta lebih uang yang terkumpul dari live streaming –sudah diserahkan sepenuhnya.

Kategori :

Terkait

Senin 09 Feb 2026 - 17:20 WIB

FDI Purbaya

Minggu 08 Feb 2026 - 17:37 WIB

Guinness Patrick

Sabtu 07 Feb 2026 - 16:40 WIB

Jakarta Malang

Jumat 06 Feb 2026 - 17:50 WIB

Makan Susu

Kamis 05 Feb 2026 - 18:06 WIB

Bulan Bulat