Pemerintah sungguh beruntung punya rakyat sepenyabar orang Batak. Seolah jalan seperti itu sudah bagian dari nasib orang Batak di kampung halaman mereka.
Sebenarnya tidak hanya Medan-Berastagi yang seperti itu. Pun jalan raya nasional seterusnya: dari Berastagi ke Sidikalang, sampai pun ke Aceh Singkil. Semua itu jalan negara. Tugas negara. Kewajiban negara. Bukan tanggung jawab provinsi maupun kabupaten Karo.
Meski berstatus jalan negara tapi begitulah keadaannya: entah sejak kapan. Di titik tertentu lebar jalan nasional itu hanya 4,7 meter. Rasanya banyak jalan desa di Jawa yang lebarnya enam meter.
BACA JUGA:Bintang 2025
Kalau ada negara melanggar ketentuan negara itu terjadi di ruas Medan-Berastagi dan seterusnya itu. Anda sudah tahu: ketentuan pemerintah, standar yang disebut jalan negara itu minimal harus 7 meter.
Dengan jalan seperti itu, dengan lalu-lintas bercampur truk dan tronton, hanya penyabar penganut Yesus yang bisa tahan.
Maka ruas Medan-Berastagi pun terasa seperti paru-paru terkena Covid. Berastagi adalah pusat buah, sayur, dan holtikultura Sumut. Setara dengan Pangalengan di Jabar. Atau Batu di Jatim.
Anda yang ketika Orde Baru sudah rajin mendengar berita RRI, nama Berastagi selalu jadi ukuran nasional: selalu disebut berapa harga cabe keriting di Berastagi hari itu.
BACA JUGA:Tiga Pemain Asing Paling Menonjol dan Konsisten di BRI Super League 2025
Tentu negara sudah banyak memberi jalan ke Sumut. Jalan tol lama Medan-Belawan dan juga Medan-Kualanamu sudah disambung oleh Presiden Jokowi: Kualanamu-Siantar.
Saya sudah merasakannya setelah pulang dari bernatal di Sidikalang. Yang Medan-Belawan sudah disambung sampai Binjai. Saya belum ada kesempatan mencobanya.
Tapi Medan-Berastagi sungguh sangat mendesaknya.
Sebenarnya para ahli perencanaan di Universitas Sumatera Utara (USU) sudah membuat studi awal. Utamanya dari teknik sipil. Dipimpin Prof Dr Johannes Tarigan. Saya sudah membaca hasil prastudi setebal bantal itu.
BACA JUGA:Tetap Perawan
Panjang jalan tol itu cukup 66 km --12 km di antaranya berupa jalan layang. Pilihan-pilihan rutenya pun sudah disiapkan. Empat pilihan. Tapi yang paling direkomendasikan adalah dari Tanjung Merawa ke Berastagi.
Artinya: di tengah tol ruas Medan-Kualanamu --di Tanjung Merawa-- dibuatkan exit ke arah Berastagi. Dengan demikian sekalian orang dari Berastagi yang akan ke bandara bisa lebih dekat.