Anwar Ali

Jumat 19 Dec 2025 - 17:43 WIB
Reporter : Dep
Editor : Edi

Anwar Ali

Oleh: Dahlan Iskan

KORANPAGARALAMPOS.COM - Inilah smelter nikel pertama yang saya lewati setelah 30 menit meninggalkan bandara Morowali.

Yang menonjol bukan pabriknya, tapi kekumuhannya. Kanan-kiri jalan utama poros Sulawesi di tengah smelter modern ini sungguh paradoksnya.

Di sepanjang jalan bangunan darurat mendominasi pemandangan. Tidak terkendali. Kumuh. Berdebu.

BACA JUGA:Pengamanan Nataru Diperketat

Di balik kekumuhan itulah terlihat pembangkit listrik yang besar dan modern. Tiga unit PLTU batu bara berjajar. Di pinggir pantai. Di sebelah pelabuhan khusus milik GNI.

Pabrik smelternya sendiri tidak di pinggir pantai. Lebih dekat ke bukit bahan baku. Antara pabrik dan pelabuhan dipisahkan jalan raya trans Sulawesi.

Itulah smelter terkenal milik perusahaan Tiongkok: PT Gunbuster Nickel Industry (GNI).

Meski smelter dan pelabuhan dipisahkan jalan raya tapi tidak mengganggu lalu-lintas. Antara smelter dan pelabuhan itu dibangun jalan layang lebar melintas di atas jalan trans Sulawesi.

BACA JUGA:Dorong Ekonomi Kerakyatan, Pagar Alam Serius Kawal Koperasi Merah Putih

Maka GNI seperti tidak terusik oleh kekumuhan bawah jalan layang itu.

Ribuan karyawan yang dari luar Morowali memang tidak ada pilihan: harus kos di kanan kiri jalan trans Sulawesi itu. Kebutuhan makan mereka pun dipenuhi oleh pedagang informal di situ.

Inilah kelemahan utama industri yang tidak berada di kawasan industri. Lingkungannya berantakan. Kualitas hidup lingkungannya sangat rendah.

Problem ini pernah dialami oleh Batam di awal pembangunannya dulu. Juga terjadi di Kaltim ketika industri kayu lapis mulai bangkit di sana: muncul kampung-kampung kumuh di Loa Janan dan seterusnya.

Kategori :

Terkait

Senin 12 Jan 2026 - 17:14 WIB

Reflek Radjimin

Minggu 11 Jan 2026 - 16:43 WIB

Sirrul Cholil

Sabtu 10 Jan 2026 - 17:03 WIB

Carter 747

Jumat 09 Jan 2026 - 17:07 WIB

Melanggar Sombong

Kamis 08 Jan 2026 - 17:02 WIB

Pilihan Baru