GUNCANGAN TRUMP
OLEH: Sabpri Piliang
WARTAWAN SENIOR
"ANGIN TOPAN" melanda emas! "Ancaman" Trump kepada Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell. Membuat emas makin "memuai".
Bahkan, emas bisa lebih dalam lagi. Bila Trump tetap memaksa Powell menurunkan suku bunga The Fed. Powell tak peduli, dia punya kalkulasi sendiri.
"Turunkan suku bunga The Fed", atau "minggir"! Ancaman kepada Powell, di tengah "Perang Tarif", memperdalam "ceruk" emas ke harga tak masuk akal.
BACA JUGA:Komitmen Berikan Pendidikan yang Berkualitas
Proyeksi dan analisa US$ 3.200-an per ons hingga akhir 2025. Telah jauh terlampaui. Terlalu dini! Hanya di kuartal pertama saja, telah melebihi US$3.500 per ons.
Lantas, mau sampai berapa hingga akhir kuartal 2025? Melihat tiga hari terakhir ini, yang "rally" naik: Rp 10.000, lalu Rp 32.000, dan Rp 65.000 diprediksi, bakal makin "menggila".
Sejumlah analis internasional tidak menampik. Dalam beberapa minggu ke depan. Sekalipun Donald Trump tengah "mendinginkan" suhu perang dengan China. Harga logam ini, bisa menyentuh US$ 4.000 per ons.
Kalkulasi yang lebih ekstreem, lembaga pembiayaan Goldman Sach, bahkan menyebut angka US$ 4.500. Sementara JP Morgan memprediksi, harga emas yang berkode kimiawi "Aurum" (Au) ini, mentok pada US$ 4.000 per ons.
BACA JUGA:Debat Santri
Besarnya antusiasme publik terhadap emas (Au), plus Bank Sentral. Menjadikan "demand" emas "average" sebesar 710-720 ton per kwartal 2025. Bila dijumlah, maka dalam tiga kuartal, menjadi 2.130-2.160 ton.
Inilah yang menjadikan harga emas sudah tak tertahan. Sekalipun sudah akan "didinginkan" oleh Trump. Harga bisa menjadi stagnasi, namun untuk kembali ke titik US$ 3.200, saya tidak yakin.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengonfirmasi. Betul, perang tarif (saling balas AS-China) akan mereda. Namun, "market" sudah terlanjur tidak nyaman dengan "pressure" Trump terhadap Ketua Federal Reserve (Bank Sentral AS), Jerome Powell.