"Tembak Dulu, Bidik Kemudian"!

Minggu 23 Mar 2025 - 21:45 WIB
Reporter : Thom Yorke
Editor : Thom Yorke

GEJOLAK INKLUSIF TRUMP

OLEH: Sabpri Piliang

WARTAWAN SENIOR

"INI adalah sebentuk ekspresi paling brutal, putus asa, kejam, dan buruk yang pernah saya dengar". (Frank Sinatra, penyanyi & aktor AS/1915-1998).

Gempuran ratusan, atau ribuan kilo bom Israel ke penduduk sipil Gaza (18/3), pekan lalu. Satu bentuk brutalistis dan "putus asa" yang jauh dari 'etika' perang sekalipun. 

Inklusifitas kemanusiaan tidak akan membenarkan, tindakan ini. Bahkan, sekalipun oleh rakyat  Israel sendiri. Semua, di luar batas nalar!

Sakit jiwa! Itulah 'piktur' yang bisa terlihat dari pelaku pengeboman Gaza, dengan korbannya 174 anak-anak (dari total 400-an korban). 

BACA JUGA:Ketinggalan Malas

Memang ada korban dari pihak pejuang Hamas, namun jumlahnya tidak sampai 20 orang. Serangan "random sampling" Israel ini, telah terpola, dengan alasan yang terduplikasi. "Mengejar Hamas".

Mengerikan, memang! Terlebih melihat klaim Israel, serangan bom tersebut telah dikoordinasikan dengan AS. Sebegitukah negeri adidaya ini memfasilitasi brutalitas?

Demokrasi dan HAM dunia, kini bagai lampu merah yang "berkedip-kedip". AS yang merupakan polisi dunia, tidak bisa lagi menjadi tempat besandar. Tak bisa jadi tempat mengadu "keluh kesah" bangsa yang tertindas. 

Bila pemimpin AS sebelum Donald Trump (Carter, Clinton, Obama, Biden), masih mampu ber-"basa-basi" menyelesaikan konflik "el classico" Israel-Palestina. Kini tidak lagi.

BACA JUGA:Ungkap Tolak Banyak Tawaran Klub Besar

AS di tangan Donald Trump tengah berproses menjadi "otoritarianisme". Baik secara inklusif (dunia), maupun eksklusif (dalam negeri AS) sendiri.

Demokrasi AS selama 240 tahun (merdeka 1776), kini sungguh-sungguh berada dalam "narrow margin". Satu garis tipis, yang berada di tepi sebidang halaman luas.

Kategori :