Disonansi Israel-Hamas

Minggu 16 Feb 2025 - 20:11 WIB
Reporter : Thom Yorke
Editor : Thom Yorke

KEKERASAN VERBAL

OLEH: Sabpri Piliang

WARTAWAN SENIOR

DISONANSI moral 'leader' dan "leadership" perang Gaza, makin runtuh. Tak ada wibawa!

Dunia harus bersiap menghadapi kekacauan moral dan kekacauan verbal! Karena rasa takut tak bisa diciptakan. Dengan ancaman dan intimidasi! 

Kekacauan kawasan Timteng, akan bermula dari Gaza. Kekerasan  verbal, seperti: "menjadikan Gaza sebagai neraka" (Trump), telah melahirkan psikologi emosional bagi lawan yang diancam.

Konsonansi, atau titik seimbang semestinya dihadirkan dari orang yang "disegani". Begitu juga resonansi sebagai asosiatif konsonansi, tak bisa diserahkan pada "leadership" yang tak punya tolok ukur (benchmarking).     

BACA JUGA:Jaipong Gembyung

Pelajaran empirik. "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari", telah menjadikan gencatan senjata Gaza, rapuh dan mudah runtuh. 

"Membuat Gaza jadi neraka", mendorong Donald Trump masuk "terlalu jauh" dalam arena.  Hamas makin yakin, tak ada pilihan. Karena "bola" bukan ada di tangan mereka. Bukan pula di tangan Netanyahu. Tapi, ada di tangan Trump.

Kepura-puraan untuk mendamaikan semasa Joe Biden. Telah berubah menjadi "outspoken", blak-blakan.  Tak ada lagi resonansi (titik seimbang) untuk "menghardik" pihak-pihak yang bertikai. Agar berhenti berperang dan saling bunuh.

Hamas yang tak sedikit pun takut terhadap Donald Trump, berbalik mengingatkan. Tak ada cara lain pembebasan sandera, kecuali melalui negosiasi. Semacam pesan, kekekerasan verbal, tidak laku bagi Hamas.

BACA JUGA:Penyebab yang Bikin Barcelona Batal Angkut Rashford

Patuhi persyaratan perjanjian gencatan senjata. Itulah yang gerakan perlawanan Islam (Harakat sl-Muqawama al-Islamiyya/Hamas) ini "takuti", bukan Trump. Bukan pula Netanyahu.

"Kami katakan pada seluruh dunia. Tidak ada migrasi kecuali ke Yerusalem." Itulah respon berani Hamas terhadap kekerasan verbal Donald Trump. Menyangkut memukimkan rakyat Gaza ke Mesir, Yordania.

Kategori :